Sejumlah pekerja di atas kapal tanker minyak China diamankan di Dermaga Pelindo 2 Palembang, Sumatra Selatan, Rabu (8/5/2024). (Foto: ANTARA/Nova Wahyudi/rwa).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pada Mei lalu, Presiden AS, Donald Tump mengancam putus kerja sama kepada negara yang masih membeli komoditas asal Iran, khususnya minyak mentah. Kini melebar, Trump mengancam negara atau entitas bisnis yang terlibat perdagangan ‘gelap’ minyak Iran, bakal dikenai sanksi serupa.
Atas kebijakan ini, posisi China tersudut. Lantaran, ketergantungan negeri Tirai Bambu terhadap minyak asal Iran itu, cukup besar. Angkanya, kira-kira di atas sejuta barel per hari. Padahal, sejak 2022, China sudah mengumumkan setop memborong impor minyak Iran. Tapi namanya juga politik, kepentingan negara di atas segalanya.
Dan, Indonesia dicurigai terlibat dalam perdagangan minyak Iran ke China yang sangat dibenci AS. Minyak itu dikirim ke China lewat ‘jalur tikus’. Diduga minyak asal Iran itu. berpindah kapal di perairan Kabil, Batam dan Malaysia.
Ada 4 kapal tanker yang diduga membawa minyak mentah asal Iran, terpantau berada di Kabil, Batam. Yakni Aquaris, Yuhan, Pola dan Pix. Perairan Kabil letaknya tak jauh dari lepas pantai Johor Malaysia, strategis untuk pertukaran kapal.
Kapal Aquaris, misalnya, merupakan kapal Aframax atau tanker berukuran sedang, kapasitasnya sekitar 80.000 hingga 120.000 ton bobot mati (DWT), terpantau seliweran di perairan Kabil pada Mei lalu.
Tiba-tiba, kapal tersebut melaut menuju perairan Johor, kemudian menerima kargo Iran dari tanker Sorion yang dikenai sanksi AS dan Inggris. Sekitar Juni, Aquaris membongkar muatan di terminal Haiye di Qingdao. Ketahuan, akhirnya dikenai sanksi Departemen Luar Negeri AS pada Agustus.
Sedangkan tanker Yuhan, diduga membawa 202.000 barel minyak mentah Iran, berangkat dari Kabil pada pertengahan Juni, menuju perairan Johor. Kemudian tiba di Rizhao, China, pada akhir Juli.
Sekitar akhir Juli lalu, tanker Pola terlihat di Kabil, meluncur ke perairan dekat Malaysia untuk mengambil minyak mentah Iran. Tiba ke Pelabuhan Dalian, China untuk bongkar muat pada pertengahan Agustus.
Selanjutnya, Pola yang mampu memuat minyak mentah sebanyak 490.000 barel itu, kembali terlihat di Kabil pada 13 September. Tujuan bongkar muatnya di Pelabuhan Rizhao, China.
Nah, kecurigaan atas keterlibatan Indonesia menjadi ‘agak’ masuk akal, jika merujuk data ekspor minyak ke China yang lumayan gede. Berdasarkan catatan Bea Cukai China, impor minyak mentah dari Indonesia mencapai 2,7 juta ton. Atau setara 630.000 barel per hari (bph) pada Agustus 2025.
Ingat, Indonesia saat ini, bukanlah negara yang kaya minyak untuk saat ini. Total produksi minyaknya hanya 580.000 bph. Sementara kebutuhan dalam negeri, menurut data Badan Informasi Energi AS, mencapai 1,7 juta bph.
Artinya, Indonesia perlu impor minyak minimal sejuta bph. Malah mengimpor minyak dalam volume besar ke China.
Tak hanya Indonesia, negeri tetangga pun dicurigai. Karena data pembelian minyak Malaysia oleh China, lebih besar ketimbang angka produksi minyaknya.
Diduga, pertukaran kapal berisikan minyak mentah Iran terjadi di lepas pantai timur Malaysia. Biasanya, sebelum minyak Iran itu dibawa ke China, dilakukan perpindahan kapal beberapa kali.













