Lonjakan Ekspor Minyak Mentah RI ke China terkait Perdagangan Gelap Iran? Ekonom: Belum Ada Bukti!

Lonjakan Ekspor Minyak Mentah RI ke China terkait Perdagangan Gelap Iran? Ekonom: Belum Ada Bukti!

Clara Medium.jpeg

Jumat, 3 Oktober 2025 – 13:25 WIB

Tunggu Komentar Fed, Harga Minyak Stabil di Awal Sesi Asia

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik 2 sen menjadi 83,07 dolar AS per barel pada pukul 02.42 GMT. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate untuk April turun satu sen menjadi 76,35 dolar AS per barel. (Foto: Antara/Reuters/Lucas Jackson)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Direktur Eksekutif Center for Energy Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak menyoroti kecurigaan soal adanya keterkaitan perdagangan gelap Iran dengan lonjakan ekspor minyak mentah Indonesia ke China.

Kecurigaan ini mencuat, usai terungkap catatan Bea Cukai China yang menyebut ekspor minyak mentah dari Indonesia mencapai 2,7 juta ton atau 630.000 barel per hari (bph) pada Agustus 2025. Padahal, Indonesia hanya mampu memproduksi minyak 580.000 bph.

Ali menilai wajar jika mencuat keceruigaan, karena Indonesia sendiri selama ini lebih banyak menjadi importir minyak (net oil importer) dibanding pengekspor minyak mentah.

“Bahwa betul ada lonjakan ekspor minyak mentah dari Indonesia ke China, itu menjadi sebuah pertanyaan besar yang memunculkan ketidakwajaran,” ujar Ali dihubungi Inilah.com, Jakarta, Jumat (3/10/2025).

Meskipun begitu, dia mengatakan belum ada bukti yang meyakinkan bahwa kenaikan tajam ekspor minyak mentah dari Indonesia ke China adalah hasil dari penyelundupan minyak Iran yang disamarkan.

“Memang ada dugaan bahwa minyak Iran dialihkan melalui jalur tertentu atau disamarkan asalnya, agar bisa dijual ke China. Metodenya bisa lewat ship-to-ship transfer, penggunaan kapal ‘shadow fleet’, atau deklarasi sebagai produk dari negara lain,” jelas dia.

Ali menyebut, banyaknya dugaan ini lantaran berdasarkan data dari pelacakan kapal, data kepabeanan China, dan laporan media atau analis swasta. Namun data tersebut kadang memiliki keterbatasan, antara lain kapal yang mematikan sistem identifikasi, ship-to-ship transfer di perairan antar negara, atau lapisan dokumentasi yang kompleks. Ini membuat tracing asal minyak jadi sulit.

“Indonesia telah secara resmi menyatakan bahwa tidak ada impor minyak dari Iran. Jika ada kasus “disamarkan”, itu berarti bukan impor langsung dari Iran, tapi mungkin alih muatan atau deklarasi yang menyesatkan,” ucapnya.

Untuk menyatakan bahwa minyak yang diklaim dari Indonesia itu sebenarnya dari Iran, Ali menegaskan, butuh bukti seperti dokumen export, tracking kapal, kepemilikan kapal, rute kapal, perubahan dokumen kepabeanan, atau investigasi hukum.

“Sejauh ini, belum ada bukti publik yang disajikan secara transparan oleh instansi resmi yang membuktikan hal tersebut,” tutur dia.

Sebelumnya,  Presiden AS, Donald Tump mengancam putus kerja sama kepada negara yang masih membeli komoditas asal Iran. Atas kebijakan ini, posisi China tersudut.  Lantaran, ketergantungan negeri Tirai Bambu terhadap minyak asal Iran itu, cukup besar. Angkanya, kira-kira di atas sejuta barel per hari. Padahal, sejak 2022, China sudah mengumumkan setop memborong impor minyak Iran. Tapi namanya juga politik, kepentingan negara di atas segalanya.

Dan, Indonesia dicurigai terlibat dalam perdagangan minyak Iran ke China yang sangat dibenci AS. Minyak itu dikirim ke China lewat ‘jalur tikus’. Diduga minyak asal Iran itu. berpindah kapal di perairan Kabil, Batam dan Malaysia.

Ada 4 kapal tanker yang diduga membawa minyak mentah asal Iran, terpantau berada di Kabil, Batam. Yakni Aquaris, Yuhan, Pola dan Pix. Perairan Kabil letaknya tak jauh dari lepas pantai Johor Malaysia, strategis untuk pertukaran kapal.

Kapal Aquaris, misalnya, merupakan kapal Aframax atau tanker berukuran sedang, kapasitasnya sekitar 80.000 hingga 120.000 ton bobot mati (DWT), terpantau seliweran di perairan Kabil pada Mei lalu.

Tiba-tiba, kapal tersebut melaut menuju perairan Johor, kemudian menerima kargo Iran dari tanker Sorion yang dikenai sanksi AS dan Inggris. Sekitar Juni, Aquaris membongkar muatan di terminal Haiye di Qingdao. Ketahuan, akhirnya dikenai sanksi Departemen Luar Negeri AS pada Agustus.

Sedangkan tanker Yuhan, diduga membawa 202.000 barel minyak mentah Iran, berangkat dari Kabil pada pertengahan Juni, menuju perairan Johor. Kemudian tiba di Rizhao, China, pada akhir Juli.

Sekitar akhir Juli lalu, tanker Pola terlihat di Kabil, meluncur ke perairan dekat Malaysia untuk mengambil minyak mentah Iran. Tiba ke Pelabuhan Dalian, China untuk bongkar muat pada pertengahan Agustus.

Tak hanya Indonesia, negeri tetangga pun dicurigai. Karena data pembelian minyak Malaysia oleh China, lebih besar ketimbang angka produksi minyaknya. Diduga, pertukaran kapal berisikan minyak mentah Iran terjadi di lepas pantai timur Malaysia. Biasanya, sebelum minyak Iran itu dibawa ke China, dilakukan perpindahan kapal beberapa kali. 
 

Topik
Komentar

Visited 2 times, 1 visit(s) today