Menag Dorong Kajian Ontologi sebagai Fondasi Rumusan Ditjen Pesantren

Menag Dorong Kajian Ontologi sebagai Fondasi Rumusan Ditjen Pesantren

Anton Medium.jpeg

Minggu, 23 November 2025 – 01:10 WIB

Menteri Agama Nasaruddin Umar menjadi pembicara kunci saat Halaqah Penguatan Kelembagaan Ditjen Pesantren di Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat (21/11/2025).

Menteri Agama Nasaruddin Umar menjadi pembicara kunci saat Halaqah Penguatan Kelembagaan Ditjen Pesantren di Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat (21/11/2025).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan fondasi konseptual Direktorat Jenderal Pesantren harus dibangun melalui kajian ontologi tiga arus besar pendidikan yakni sekuler, pendidikan Islam, dan pendidikan pesantren.

Road map pesantren dan pendidikan Islam harus jelas. Jangan sampai jalannya sama, tetapi memakai nama berbeda,” ujar Menag saat menjadi pembicara kunci saat Halaqah Penguatan Kelembagaan Ditjen Pesantren di Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung., Sabtu (22/11/2025).

Menurutnya, Ditjen Pesantren dapat dikatakan sebagai ‘cek kosong’ yang memerlukan pengisian matang agar tidak melahirkan kebijakan prematur.

Ia berharap forum halaqah ini melahirkan gagasan yang solid untuk menentukan arah masa depan pesantren, sekaligus mengintegrasikan keragaman pandangan yang saat ini berkembang dalam dunia pendidikan.

Sementara itu Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Arskal Salim mengatakan halaqah ini menjadi ruang terbuka bagi para kiai, ajengan, pengelola pesantren, alumni pesantren, akademisi, dan pemerintah untuk menyampaikan pandangan dan masukan berharga.

“Halaqah ini memberikan ruang bagi kita semua untuk memberikan masukan-masukan, sSehingga menghadirkan gagasan yang lebih konkret dan inovatif tentang bagaimana membentuk arah penguatan pesantren,” ujarnya.

Salah satu tokoh yang hadir, mantan Ketua PBNU Said Aqil Siradj menegaskan, penguatan pesantren tidak boleh hanya berhenti pada aspek administratif, tetapi harus berdiri di atas bangunan epistemologi yang kokoh.

Pemahaman agama perlu berlandaskan tiga pendekatan klasik yang telah menjadi tradisi besar dalam keilmuan Islam yaitu Bayan (pendekatan tekstual berbasis wahyu dan hadis), Burhan (pendekatan rasional yang menguatkan teks melalui logika dan penalaran), dan Irfan (pendekatan spiritual yang memberikan kedalaman makna melalui pengalaman batin).

“Tiga epistemologi ini tidak boleh berjalan sendiri. Teks tanpa nalar tidak cukup, dan nalar tanpa kedalaman spiritual juga tidak memadai,” ujar Said Aqil.

Topik
Komentar

Visited 1 times, 1 visit(s) today