Mengapa The Odyssey Tidak Tayang di IMAX Keong Emas TMII?

Mengapa The Odyssey Tidak Tayang di IMAX Keong Emas TMII?

Antusiasme terhadap The Odyssey karya Christopher Nolan memunculkan pertanyaan baru di kalangan pencinta film Indonesia: mengapa Teater Keong Emas di TMII, yang punya sejarah panjang dengan teknologi film layar raksasa, tidak digunakan untuk menayangkan film tersebut?

Perjalanan The Odyssey di bioskop tidak hanya menghidupkan kembali mitologi Yunani. 

Film epik Christopher Nolan itu juga membangunkan satu “raksasa tidur” di Jakarta Timur: Teater Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah.

Pembicaraan tersebut mencuat setelah akun X @onlyramdan mempertanyakan mengapa gedung yang dahulu dikenal sebagai Teater IMAX Keong Emas itu tidak digunakan untuk menayangkan The Odyssey.

Berdasarkan percakapan dari unggahan tersebut telah dilihat sekitar 79.400 kali serta mengumpulkan 256 tanda suka, 23 kutipan, 17 unggahan ulang, dan 27 penyimpanan.

“Kalau sekarang dipakai buat tayangin The Odyssey pasti mantap banget,” tulis akun tersebut.

Sejumlah warganet kemudian mengusulkan agar pengelola TMII bekerja sama dengan jaringan bioskop komersial untuk mengaktifkan kembali fungsi Keong Emas sebagai tempat pemutaran film-film layar lebar. 

Namun, ada pula komentar yang menyebut lisensi IMAX tempat tersebut sudah dicabut.

Benarkah Keong Emas bisa begitu saja digunakan untuk menayangkan The Odyssey dalam format IMAX 70 mm?

Keong Emas Dibangun untuk Film Layar Raksasa

Teater Keong Emas bukan sekadar gedung berbentuk cangkang yang menjadi latar swafoto pengunjung TMII.

Menurut situs resmi TMII, gedung itu diresmikan pada 20 April 1984 atas prakarsa Tien Soeharto. 

Teater tersebut awalnya dibangun sebagai sarana rekreasi edukatif untuk memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Indonesia melalui tayangan film layar raksasa.

Saat ini, TMII mencatat kapasitas auditorium Keong Emas mencapai 836 kursi. Situs resminya masih menggambarkan tempat tersebut sebagai teater dengan layar raksasa dan teknologi sinematografi, tetapi tidak lagi menonjolkan nama IMAX dalam halaman promosinya. 

Teater Keong Mas Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. (Foto: Antara)

Program yang disebutkan justru berupa film animasi pilihan, film bertema daerah, serta produksi tentang kebudayaan Indonesia seperti The Glorious Komodo, Langkah-Langkah Kecil, dan animasi musikal Keong Emas.

Artinya, Keong Emas tidak sepenuhnya mati. Teater itu masih beroperasi sebagai salah satu wahana TMII.

Halaman tiket resmi TMII menyebut Keong Emas dibuka setiap hari. Harga tiketnya tercantum sebesar Rp50.000 untuk kelas reguler, Rp75.000 untuk VIP atau balkon, serta Rp100.000 untuk VVIP. 

Namun, TMII tidak mencantumkannya sebagai bioskop komersial yang rutin memutar film Hollywood terbaru. 

Punya Jejak Format Film 70 mm

Keinginan warganet menyaksikan The Odyssey di Keong Emas bukan sepenuhnya nostalgia tanpa dasar.

Dokumentasi MacGillivray Freeman Films mencatat sejumlah film pernah diproduksi khusus untuk Keong Emas IMAX Theatre di Jakarta. 

Salah satunya, Emeralds of the Sea, direkam dengan format 15 perforasi per 70 mm dan menjadi bagian dari trilogi film mengenai Indonesia yang dibuat untuk teater tersebut.

Catatan media pada 1990 juga pernah menempatkan layar Keong Emas sebagai layar bioskop terbesar dengan ukuran sekitar 92,75 kali 70,5 kaki, atau kurang lebih 28,3 kali 21,5 meter. 

Berbagai basis data komunitas IMAX belakangan mencantumkan ukuran sekitar 29,3 kali 21,5 meter, tetapi angka terakhir itu tidak tercantum pada halaman resmi TMII saat ini.

Karena itu, penyebutan Keong Emas sebagai pemilik salah satu layar bioskop terbesar di Indonesia memiliki dasar sejarah. 

Namun, klaim bahwa tempat tersebut merupakan teater IMAX 70 mm pertama di Asia Tenggara belum dapat dipastikan hanya dari sumber resmi yang tersedia.

TMII mengonfirmasi tanggal peresmian dan fungsi layar raksasanya, tetapi tidak secara eksplisit menyebut status “pertama di Asia Tenggara”. Sebutan yang lebih aman adalah salah satu pelopor teater IMAX dan film layar raksasa di kawasan tersebut, sekaligus IMAX pertama yang pernah beroperasi di Indonesia.

Mengapa The Odyssey Terasa Cocok?

The Odyssey memang bukan film yang kebetulan mendapat label IMAX untuk kebutuhan promosi.

Situs resmi film menyatakan seluruh adegannya direkam menggunakan kamera film IMAX. Untuk lokasi yang memutar salinan IMAX 70 mm, film ditampilkan dalam rasio gambar 1.43:1, dengan setiap bingkai memiliki 15 perforasi dan bergerak secara horizontal di dalam proyektor. 

The Odyssey meraup US$17,6 juta dari preview dan diproyeksikan mencetak debut US$117 juta, berpotensi menjadi pembukaan live-action terbesar 2026. (Foto: Universal Pictures)

Format tersebut menghasilkan gambar lebih tinggi yang memenuhi layar dari lantai hingga langit-langit.

Dalam pengertian historis, karakter layar Keong Emas memang terdengar ideal untuk film seperti itu: layar tinggi, auditorium besar, dan jejak penggunaan sistem film 15/70.

Namun, memiliki gedung dan layar berukuran raksasa tidak otomatis berarti sebuah tempat dapat memutar The Odyssey dalam IMAX 70 mm.

Pengelola harus memastikan proyektor film 15/70 masih tersedia dan berfungsi, sistem suara memenuhi standar, ruang proyeksi aman, tenaga proyeksionis terlatih tersedia, serta ada kesepakatan distribusi untuk mendapatkan salinan film.

The Odyssey meraih skor audiens 97 persen di Rotten Tomatoes, tertinggi dalam karier Christopher Nolan, mengalahkan The Dark Knight dan Memento. (Foto: pacificsciencecenter)

Teater juga harus memiliki hubungan komersial dan lisensi yang sesuai dengan IMAX serta distributor film.

Belum ada keterangan resmi dari TMII maupun IMAX yang memastikan kondisi perangkat proyeksi film di Keong Emas pada 2026. 

Karena itu, klaim warganet bahwa lisensi IMAX-nya telah dicabut belum dapat dinyatakan sebagai fakta.

Yang dapat dikonfirmasi, daftar resmi IMAX saat ini menampilkan The Odyssey di sejumlah bioskop komersial Indonesia, termasuk Gandaria City XXI, Alam Sutera XXI, The Breeze, Kelapa Gading XXI, dan sejumlah lokasi lain. Keong Emas tidak muncul sebagai lokasi pemutaran komersial film tersebut.

Dari data tersebut, dapat diinferensikan bahwa Keong Emas saat ini tidak beroperasi sebagai bagian aktif dari jaringan bioskop komersial IMAX untuk film-film terbaru. 

Namun, alasan pastinya—apakah menyangkut lisensi, kondisi proyektor, model bisnis, distribusi, atau keputusan pengelolaan—masih membutuhkan penjelasan resmi.

Pernah Putar Harry Potter dan Spider-Man?

Warganet juga mengingat kembali kabar bahwa Keong Emas pernah digunakan untuk memutar Harry Potter and the Prisoner of Azkaban dan Spider-Man 2 pada era 2000-an.

Keterangan mengenai dua film tersebut muncul dalam berbagai dokumentasi wisata, laporan lama, dan unggahan komunitas.

Arsip industri format besar juga mencatat Harry Potter and the Prisoner of Azkaban sebagai salah satu judul IMAX yang beredar pada 2004.

Visited 3 times, 3 visit(s) today