Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat sebagai prioritas utama pemerintah, bukan semata mengandalkan bantuan sosial (bansos).
Hal itu disampaikan Zulhas dalam kegiatan Indonesia Summit 2025 Day 2, sesi Food Sovereignty for Economic Growth di The Tribarata, Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (28/8/2025).
“Nah pilihan Presiden (Prabowo Subianto) jelas sekarang, pemberdayaan masyarakat. Presiden pilihannya sekarang yang paling utama adalah pemberdayaan masyarakat. Keperpihakan kepada masyarakat luas. Karena 28 tahun pertumbuhan ekonomi kita 5 persen, kenapa? Ekonomi kita berputar kepada yang grup besar saja. Kami harus berani mengatakan ini,” ujar Zulhas.
Ia menegaskan, praktik demokrasi di Indonesia belakangan ini justru membentuk pola pikir masyarakat yang terbiasa dengan timbal balik materi.
Zulhas pun mencontohkan saat seseorang ingin maju menjadi kepala desa, maka dia juga harus mengeluarkan uang. Hal semacam itu juga terjadi di berbagai lingkup lainnya dan sudah menjadi rahasia umum.
“Kami melatih, ini saya dihujat tapi enggak apa-apa. Kita melatih dalam demokrasi itu, semua itu memberi. Rakyat kita ajar dibayar. Ya, mau jadi kades, bayar. Mau jadi ini, bayar. Mau jadi itu, bayar,” ucap Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini.
Menurut Zulhas, pola tersebut jauh berbeda dengan semangat rakyat di era perjuangan yang terbiasa memberi meski dalam keterbatasan.
“Lama-lama, rakyat kita yang pejuang itu hilang. Yang dulu kalau kita mau merdeka, walaupun dia punya singkong, beri pada pejuang. Punya pisang rebus, beri. Rakyat kita walaupun kurang, memberi,” tuturnya.
“Sekarang, tangannya di bawah. Kita sudah biasakan kasih beras 10 kilo, kasih bantuan sosial Rp200 ribu, jadi dilatih sedekah. Oke, saya tidak menolak itu. Tetapi kalau rakyat kita terus kita latih begitu, pemberdayaannya di mana?” tambah Zulhas.
Lebih jauh, Zulhas menilai mustahil Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa keterlibatan generasi muda yang kreatif dan produktif.
“Negara enggak mungkin tumbuh di 8 persen tanpa anak-anak muda yang kreatif, yang produktif. Enggak mungkin. Nah ini yang Pak Prabowo inginkan. Bantuan tetap oke, tapi kita melatih anak muda kita itu produktif. Maka intinya adalah pemberdayaan,” tegasnya.
Sebagai contoh, Zulhas menyebut negara-negara seperti Singapura, Tiongkok, dan Korea Selatan yang mampu tumbuh kuat karena fokus pada pemberdayaan rakyatnya.
“Lihat Singapura, lihat Tiongkok tadi yang saya gambarkan, lihat Korea Selatan ya. Itu pemberdayaan. Maka lahirlah satu, untuk negara kuat lahirlah Danantara. Yang anak muda agar dilatih itu tadi menjadi pemberdayaan, maka lahirlah Kopdes Merah Putih, Koperasi Desa Merah Putih,” ujarnya.














