Nilai tukar rupiah menguat 62 poin ke level Rp17.325 per dolar AS pada perdagangan Kamis (7/5/2026) pagi. (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Analis ekonomi dan politik dari Menteng Kleb, Kusfiardi, memberikan catatan kritis terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai menunjukkan anomali pada awal Mei 2026.
Meski Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya merilis pertumbuhan ekonomi yang impresif sebesar 5,61 persen, ketimpangan di pasar keuangan dinilai masih memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan daya beli masyarakat hingga akhir tahun.
“Saya ingin menyoroti fenomena ‘dualitas ekonomi’. Di satu sisi, sektor riil dan pasar modal menunjukkan optimisme tinggi. Di sisi lain, pasar valuta asing (valas) masih memberikan peringatan keras melalui depresiasi rupiah yang signifikan,” ujar Kusfiardi di Jakarta, dikutip Kamis (7/5/2026).
Pertumbuhan Semu?
Menurut dia, data BPS menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026, atau berada dalam kisaran target APBN sebesar 5,2–5,8 persen.
Namun, Kusfiardi mencatat adanya kontraksi sebesar 0,77 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
“Pertumbuhan tahunan yang berdampingan dengan kontraksi kuartalan menunjukkan adanya perlambatan aktivitas ekonomi pascasiklus musiman. Momentum ini rentan hilang pada kuartal II,” ujarnya.
Ia menilai respons pasar terhadap data BPS cenderung berlawanan arah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat 1,22 persen ke level 7.057, mencerminkan optimisme investor terhadap fundamental emiten.
Sebaliknya, nilai tukar rupiah justru melemah hingga sekitar Rp17.424 per dolar AS, menciptakan selisih sekitar Rp924 dari asumsi APBN sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Menurut Kusfiardi, pelemahan rupiah di tengah pertumbuhan ekonomi yang kuat menunjukkan bahwa sentimen global—seperti risiko inflasi di negara berkembang dan perlambatan ekonomi dunia ke kisaran 3,0 persen—lebih dominan dibandingkan faktor domestik.
Rapuhnya Fiskal dan Daya Beli
Menteng Kleb memperingatkan ketidaksesuaian asumsi makro tersebut membawa sejumlah risiko.
Pertama, imported inflation. Pelemahan nilai tukar berpotensi menaikkan harga bahan baku impor dan mendorong inflasi melampaui target 2,5 persen.
Kedua, tekanan terhadap APBN. Defisit anggaran yang telah mencapai sekitar 2,48 persen berpotensi melebar akibat meningkatnya beban subsidi energi serta bunga utang luar negeri karena selisih kurs.
“Ketiga, erosi daya beli. Jika harga barang terus naik, motor utama pertumbuhan ekonomi, yakni konsumsi rumah tangga, akan tergerus pada kuartal mendatang,” ungkapnya.
Kusfiardi menilai posisi ekonomi Indonesia saat ini masih relatif rapuh. Pertumbuhan pada kuartal I-2026 dinilai belum cukup kuat untuk menopang stabilitas nilai tukar.
“Diperlukan sinkronisasi kebijakan yang lebih agresif antara intervensi moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah. Tanpa stabilisasi kurs yang cepat, pertumbuhan di awal tahun ini hanya akan menjadi ‘puncak semu’ yang segera diikuti penurunan tajam akibat tekanan biaya hidup masyarakat,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










