Ilustrasi empat tujuan utama Kemendikdasmen menghadirkan TKA untuk jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/MAK pada 1-9 November 2025 (Foto: Freepik)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Iman Zanatul Haeri menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki model pendidikan menengah yang berorientasi pada pengembangan bidang tertentu, yakni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Namun, menurut dia, peran strategis SMK belum berjalan optimal karena lemahnya arah kebijakan dan revitalisasi.
Iman menyampaikan hal tersebut merespons perbandingan sistem pendidikan di sejumlah negara yang telah menetapkan fokus keunggulan sejak jenjang sekolah menengah, seperti India yang mengembangkan pendidikan berbasis teknologi informasi serta Jepang yang menitikberatkan pada teknologi dan industri.
“Sebetulnya Indonesia sudah punya instrumen itu melalui SMK. Masalahnya, SMK kita belum direvitalisasi secara serius,” kata Iman kepada inilah.com, Rabu (14/1/2026).
Ia menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan lulusan SMK masih menjadi penyumbang angka pengangguran tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Menurut Iman, kondisi tersebut menjadi indikator kuat bahwa arah pembangunan SMK belum selaras dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kami kira pemerintah harus segera melakukan revitalisasi SMK agar tidak terus-menerus melahirkan pengangguran terbuka paling tinggi, seperti yang dicatat BPS,” ujarnya.
Iman menilai revitalisasi SMK harus dimulai dari kejelasan spesifikasi dan orientasi setiap sekolah. Pemerintah, kata dia, perlu memastikan bahwa bidang keahlian yang dikembangkan benar-benar relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan zaman.
Selain itu, ia menyoroti persoalan bantuan sarana dan prasarana yang kerap tidak tepat sasaran. Berdasarkan laporan yang diterima P2G, banyak fasilitas yang diberikan kepada SMK tidak berkorelasi dengan kebutuhan dunia kerja, bahkan sudah tertinggal dari perkembangan teknologi.
“Kami sering mendapat laporan bahwa fasilitas yang diterima SMK tidak nyambung dengan kebutuhan industri, atau alatnya sudah tidak relevan ketika sampai di sekolah,” ungkapnya.
Di tengah perubahan industri yang berlangsung cepat, Iman menekankan pentingnya penguatan kompetensi inti yang bersifat jangka panjang bagi peserta didik SMK. Menurut dia, pendekatan pembangunan SMK tidak bisa lagi bergantung pada bantuan alat teknis yang bersifat sementara.
“Di era perubahan yang sangat cepat, SMK membutuhkan penguatan skill jangka panjang. Ini tidak akan tercapai jika pemerintah masih menggunakan paradigma bantuan alat yang berumur pendek dan cepat usang,” katanya.
Ia menegaskan, tanpa perubahan paradigma dan kebijakan yang lebih terarah, SMK berisiko terus tertinggal dan gagal menjalankan fungsi strategisnya sebagai penyedia tenaga kerja terampil bagi sektor industri nasional.










