Ngeri! 10.000 WNI Jadi Korban Love Scam, Lulusan Master Juga Kena Tipu

Ngeri! 10.000 WNI Jadi Korban Love Scam, Lulusan Master Juga Kena Tipu

Ikhsan Medium.jpeg

Minggu, 26 Oktober 2025 – 22:22 WIB

Kemlu RI catat lebih dari 10.000 WNI jadi korban love scam dan online scam di Asia Tenggara. (Ilustrasi: Inilah.com)

Kemlu RI catat lebih dari 10.000 WNI jadi korban love scam dan online scam di Asia Tenggara. (Ilustrasi: Inilah.com)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kasus love scam dan penipuan daring kini mencapai titik darurat. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mencatat data mengerikan: sejak tahun 2020, lebih dari 10.000 Warga Negara Indonesia (WNI) telah terjebak dalam jaringan penipuan siber internasional. Ironisnya, mayoritas korban ini bukan hanya menjadi target penipuan, tetapi juga terjerumus menjadi pelaku aktif yang gentayangan di media sosial.

Direktur Perlindungan WNI Kemlu Judha Nugraha mengungkapkan bahwa pola kasus ini semakin mengkhawatirkan karena melibatkan korban berpendidikan.

“Dari lebih 10.000 kasus yang kami tangani, sekitar 1.500 WNI merupakan korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Sisanya, angka yang sangat besar, berangkat secara sukarela karena tergiur gaji tinggi,” ujar Judha, dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Minggu (26/10/2025).

Modus Gaji US$1.200 dan Akun Palsu

Sindikat online scam ini beroperasi secara terstruktur di setidaknya 10 negara, termasuk Kamboja, Myanmar, Laos, hingga Uni Emirat Arab (UEA). Modusnya selalu serupa dan terorganisasi rapi.

Para WNI direkrut melalui iming-iming pekerjaan sebagai customer service atau marketing dengan janji gaji fantastis, berkisar antara US$1.000 hingga US$1.200 (sekitar Rp16,5 juta-Rp19,8 juta). Begitu tiba di lokasi, mimpi indah itu sirna. Mereka justru dipaksa membuat akun media sosial palsu untuk menipu target utama mereka, yaitu sesama warga Indonesia.

“Biasanya mereka membuat akun dengan foto perempuan cantik, lalu menjebak korbannya lewat pendekatan romantis. Setelah korban percaya, barulah muncul modus investasi bodong atau jual-beli palsu,” kata Judha, menjelaskan detail modus love scam yang sangat berbahaya itu.

Korban Berpendidikan, Pelaku Overstay

Judha menegaskan, korban love scam ini tidak pandang bulu dan tidak selalu laki-laki. “Bisa jadi yang mengaku perempuan di ujung sana sebenarnya laki-laki. Jadi hati-hati, jangan langsung percaya kalau tiba-tiba ada yang akrab lewat media sosial,” ingatnya.

Yang membuat miris, profil korban scam ini jauh berbeda dari korban TPPO tradisional. Mayoritas yang terjebak adalah generasi muda berusia 18 hingga 35 tahun, berpendidikan tinggi, bahkan ada yang bergelar master. Mereka tertipu oleh kemudahan kerja dan janji gaji yang melambung tinggi.

Kemlu juga menemukan bahwa banyak WNI yang secara sadar bekerja sebagai scammer karena menganggapnya sebagai ‘pekerjaan biasa’, padahal korban penipuan mereka adalah warga sebangsa.

Judha juga menyoroti masalah dokumen legalitas. Seluruh WNI yang terjebak ini tidak memiliki kontrak kerja resmi.

“Tidak ada satu pun dari 10.000 WNI itu yang menandatangani kontrak kerja di Indonesia. Mereka berangkat menggunakan visa wisata dan akhirnya overstay,” pungkasnya, menandakan adanya pelanggaran imigrasi yang memperparah kondisi mereka.
 

Topik
Komentar

Visited 3 times, 1 visit(s) today