Teknologi bedah mutakhir memang penting, namun pakar kesehatan menegaskan bahwa terapi konservatif dan rehabilitasi terarah tak kalah esensial bagi kesembuhan pasien. (Foto: Siloam)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Penanganan medis pada masalah tulang, sendi, dan otot (ortopedi) kerap kali diidentikkan dengan meja operasi. Namun, tren dunia medis modern menunjukkan sebaliknya.
Para ahli kesehatan dan pakar ortopedi menegaskan bahwa tindakan bedah bukanlah satu-satunya jalan keluar untuk menangani masalah muskuloskeletal. Terapi konservatif, pengobatan regeneratif, dan rehabilitasi yang terarah justru memiliki peran esensial dalam memulihkan mobilitas pasien.
Pandangan mendalam ini mengemuka dalam simposium kesehatan berskala besar bertajuk Siloam Orthovolution 2026: Symposium & Live Surgery yang diselenggarakan oleh Siloam Hospitals Mampang di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Forum medis ini mempertemukan lebih dari 200 tenaga kesehatan serta 14 pakar internasional dan nasional, termasuk pakar ortopedi dari Brisbane, Australia, dr. Peter Gifford.
Pendiri Siloam Hospitals Mampang, dr. Henry Suhendra, Sp.OT, Subsp.CO(K), menyampaikan bahwa meskipun inovasi teknologi bedah kini sangat maju, layanan ortopedi yang paripurna tidak melulu harus berujung pada meja operasi.
“Teknologi memang penting untuk meningkatkan presisi dan keamanan tindakan, tetapi tujuan utama kami adalah membantu pasien kembali bergerak dan hidup lebih baik. Dalam banyak kondisi, terapi konservatif, rehabilitasi terarah, dan pemantauan berkelanjutan juga memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan pemulihan pasien,” tegas dr. Henry.
Fokus pada Kualitas Hidup Pasien
Sejalan dengan hal tersebut, layanan penanganan ortopedi kini dituntut untuk bertransformasi menjadi pusat perawatan yang komprehensif. Pemeriksaan tidak hanya berfokus pada titik rasa sakit, melainkan melibatkan kolaborasi multidisiplin mulai dari diagnosis, pemilihan terapi, tindakan medis, hingga rehabilitasi medik pascatindakan.
Prof. Dr. dr. Andri M. T. Lubis, Sp.OT, Subsp.CO(K), menambahkan bahwa inovasi medis mutakhir harus diterjemahkan ke dalam praktik klinis yang aman.
Fasilitas pendukung seperti bedah dengan bantuan robot (robotic-assisted surgery), bedah minimal invasif, hingga pengobatan regeneratif (seperti terapi stem cell dan orthobiologics) dikembangkan untuk memberikan presisi yang disesuaikan dengan kebutuhan personal setiap pasien.
Keberhasilan kolaborasi antara teknologi medis dan pendampingan rehabilitasi yang baik ini sangat dirasakan oleh para pasien. Iskandar Abubakar, salah satu pasien operasi penggantian sendi lutut total (Total Knee Replacement/TKR) di Siloam Hospitals Mampang, mengaku sempat khawatir sebelum mengambil tindakan medis.
“Bagi saya, keputusan untuk menjalani tindakan TKR bukan hal mudah. Namun, yang paling berarti bagi saya adalah merasa didampingi, bukan hanya saat tindakan operasi, tetapi juga dalam proses (rehabilitasi) untuk bisa kembali bergerak dan beraktivitas dengan lebih baik,” kisahnya.
Hal ini membuktikan bahwa keberhasilan penanganan ortopedi tidak lagi diukur sekadar dari selesainya sebuah tindakan medis. Keberhasilan sesungguhnya tercapai ketika pasien mampu kembali berjalan, bekerja, beribadah, hingga berolahraga secara nyaman dan meraih kembali kualitas hidup terbaiknya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














