Pasar kripto global berbalik arah, mencatatkan kenaikan signifikan pada Rabu, 3 Desember 2025. (Foto: tokocrypto.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Setelah sempat terseok-seok, pasar aset kripto global akhirnya kembali menunjukkan kekuatan fantastis. Pada perdagangan Selasa (2/12/2025) hingga berlanjut ke Rabu (3/12/2025), mayoritas kripto utama kompak berada di zona hijau. Harga Bitcoin (BTC), sang raja kripto, melonjak signifikan seiring dengan kombinasi sentimen bullish yang datang dari Amerika Serikat (AS).
Mengutip data pergerakan di coinmarketcap.com, harga Bitcoin mencatatkan kenaikan tajam sebesar 5,88 persen dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Kenaikan ini memperpanjang performa positif BTC selama sepekan terakhir yang melambung 4,44 persen.
Saat ini, satu keping Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$91.439, yang setara dengan Rp1,51 miliar (dengan asumsi kurs dolar AS terhadap Rupiah di kisaran Rp16.620).
Kenaikan ini bukan hanya milik Bitcoin. Ether (ETH), sebagai aset kripto terbesar kedua, turut mencatat penguatan 7,61 persen dalam 24 jam terakhir, membawa harganya kini berada di posisi US$3.000,69. Lonjakan harga-harga utama ini berhasil memulihkan total kapitalisasi pasar kripto global menjadi US$3,06 triliun atau Rp50,85 triliun, setelah sempat anjlok di bawah US$3 triliun pada pekan sebelumnya.
Dua Pemicu Utama Kebangkitan: The Fed dan Raksasa Keuangan AS
Perubahan arah pasar kripto ini tidak terjadi tanpa alasan. Setidaknya ada dua pemicu fundamental yang mendorong rebound agresif ini.
Pertama, Harapan Penurunan Suku Bunga The Fed. Pelaku pasar saat ini bertaruh lebih agresif pada kebijakan moneter yang lebih longgar dari bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Data dari CME FedWatch menunjukkan probabilitas sebesar 87,2 persen untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 10 Desember mendatang. Angka ini melonjak drastis dari 63 persen sebulan lalu. Pergeseran harapan suku bunga yang lebih rendah ini secara tradisional mendukung aset berisiko seperti kripto karena meningkatkan likuiditas pasar.
Kedua, Aksi Korporasi dari Raksasa Keuangan AS. Pemicu yang paling spesifik dan instan adalah lonjakan aktivitas Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot. Hal ini dipicu oleh keputusan mendadak dari Vanguard untuk mencabut larangan pembelian ETF Bitcoin yang telah lama diberlakukan kepada klien mereka.
Eric Balchunas, Analis terkemuka dari Bloomberg Intelligence, menuturkan bahwa lonjakan harga Bitcoin hampir bertepatan dengan pembukaan pasar saham AS, sesi pertama setelah klien Vanguard mendapatkan kembali akses ke produk ETF tersebut.
“Bitcoin melonjak 6 persen tepat di sekitar pembukaan pasar AS pada hari pertama setelah larangan dicabut. Kebetulan? Saya rasa tidak,” tulis Balchunas di platform media sosial X. Ia bahkan mencatat IBIT milik BlackRock mencapai volume perdagangan US$1 miliar hanya dalam 30 menit pertama.
Aksi balik arah Vanguard ini terjadi bersamaan dengan laporan bahwa Bank of America juga melonggarkan pembatasan lama. Mereka kini mengizinkan kliennya mengalokasikan 1 hingga 4 persen portofolio mereka untuk kripto, mengakhiri larangan yang mencegah lebih dari 15.000 penasihat keuangan merekomendasikan produk aset digital.
CIO Bitwise, Matt Hougan, melihat perkembangan positif seperti ini, yang sering ‘diabaikan’ saat pasar sedang lesu, sebagai ‘energi potensial’ yang kini terakumulasi dan dilepaskan, memicu tren kenaikan berikutnya. Kombinasi harapan suku bunga rendah dan pintu masuknya dana institusional besar melalui ETF telah menciptakan momentum yang kuat, mendorong Bitcoin kembali menembus level krusial Rp1,5 miliar.
.
.
.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Inilah.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.














