Programmer LG CNS Sekelas Anak SMA Tuduhan Serius, PDIP Tuntut Purbaya Klarifikasi

Programmer LG CNS Sekelas Anak SMA Tuduhan Serius, PDIP Tuntut Purbaya Klarifikasi

Diana Medium.jpeg

Sabtu, 25 Oktober 2025 – 23:30 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan pada forum 1 Tahun Prabowo–Gibran: Optimism on 8% Economic Growth di Jakarta, Kamis (16/10/2025). (Foto: Antara Foto/Dhemas Reviyanto/bar).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan pada forum 1 Tahun Prabowo–Gibran: Optimism on 8% Economic Growth di Jakarta, Kamis (16/10/2025). (Foto: Antara Foto/Dhemas Reviyanto/bar).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut ada kualitas programmer LG CNS–vendor Coretax–sekelas lulusan SMA disebut tuduhan serius. Anggota Komisi XI Fraksi PDIP, Harris Turino, menilai pernyataan ini bukan sekadar candaan, melainkan menyentuh persoalan mendasar tentang tata kelola sebuah proyek strategis nasional.

Harris menegaskan, pernyataan tersebut harus segera diklarifikasi secara serius. Sebab, ucapan tersebut membuka indikasi adanya kelemahan dalam pengawasan dan tata kelola proyek senilai triliunan rupiah.

“Sebagai anggota Komisi XI DPR RI yang membidangi keuangan, saya menilai pernyataan ini membuka indikasi potensi lemahnya pengawasan dan tata kelola dalam proyek strategis senilai triliunan rupiah,” ungkap Harris kepada Inilah.com, Sabtu (25/10/2025).

Ia mengingatkan, Coretax bukanlah sistem sembarangan. Program ini merupakan tulang punggung digitalisasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang diharapkan menjadi fondasi perpajakan Indonesia yang modern. Menurutnya, publik berhak memastikan bahwa sistem vital ini dibangun oleh tenaga ahli yang kompeten dan melalui proses seleksi yang transparan.

Harris menekankan, jika benar pengembangannya melibatkan pihak dengan kualifikasi yang tidak memadai, maka Kemenkeu wajib memberikan penjelasan.

“Jika benar pengembangan sistem ini melibatkan pihak-pihak tanpa latar belakang profesional dan akademik yang memadai, maka Kemenkeu perlu menjelaskan bagaimana mekanisme kontrol kualitas, audit teknis, serta pengawasan proyek dijalankan,” tegasnya.

Dia menyatakan, Komisi XI DPR akan meminta laporan yang rinci dan komprehensif. Laporan itu harus mencakup vendor yang terlibat, struktur pembiayaan, hingga proses penjaminan mutu (quality assurance) dari sistem Coretax.

Harris melihat pernyataan ini memunculkan pertanyaan besar tentang arah kebijakan digitalisasi fiskal Indonesia. Ia menegaskan bahwa digitalisasi pajak tidak boleh dikelola secara eksperimental atau mengabaikan prinsip tata kelola yang baik dan keamanan data.

Harris menekankan tidak boleh ada ruang untuk kelalaian, sebab Coretax mengelola data sensitif jutaan wajib pajak.

“Saya berharap Menteri Keuangan segera memberikan penjelasan terbuka agar publik mendapatkan kejelasan, bukan kebingungan,” pungkasnya.

Sebelumnya, pengakuan mengejutkan datang dari Menkeu Purbaya, yang mengakui Coretax tak mumpuni untuk digunakan. Bahkan dia menggandeng peretas putih alias White Hacker untuk menguji aplikasi warisan eks Menkeu Sri Mulyani, usai dilakukan sejumlah perbaikan.

“Kita juga sudah panggil hacker kita, yang jago-jago, ini bukan orang asing. Orang Indonesia tuh hacker-nya jago-jago banget, saya panggil yang ranking-ranking dunia itu yang jagoan, enggak payah sih. Dan sudah di-test, sudah lumayan,” ujar Purbaya kepada wartawan, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Purbaya mengatakan, sistem Coretax yang telah dikembangkan selama empat tahun oleh pihak asing rupanya sering bermasalah. Bahkan dia menyebut, pihak asing, LG CNS, yang ditunjuk untuk menyelesaikan sistem Coretax juga tak menemukan jalan keluar.

“Kesimpulannya yang saya bilang tadi, dari problem kritis yang sering dialami pengguna, itu sudah cukup banyak terasa sih, sesuai dengan target awal kita ya, target awal anak buah saya sih, karena depan bisa diberesin, tengah bisa diberesin, yang di bawah yang di LG gak bisa,” kata dia.

Lantas, Purbaya langsung menunjuk tim untuk memperbaiki sistem tersebut. Saat dicek kata dia, timnya menemukan hal lucu pada Coretax. Dia menyebut, sistem tersebut seperti dibuat oleh anak lulusan SMA.

“Komentarnya lucu deh, begitu mereka dapet source codenya, dilihat sama orang saya. Dia bilang wah ini programmer tingkat baru lulusan SMA, jadi yang dikasih ke kita bukan orang jago-jagonya kelihatannya,” paparnya.

Lebih lanjut, Purbaya menceritakan pengalamannya merekrut hacker. Kata dia, semakin pintar seorang hacker maka semakin tidak jelas sekolahnya. Adapun hacker yang direkrut untuk mengatasi Coretax pernah menangani permasalahan serupa di Kemenko Polhukam.

Hacker tersebut kata dia pernah dilatih di Rusia selama 6 bulan ditempat khusus. Selain itu hacker tersebut pernah bekerja bersama dirinya saat di LPS dan di Kementerian Maritim dan Investasi.

“Dia dilatih di Rusia 6 bulan kali. Khusus di tempat tertutup di sana. Jadi kayaknya KGB juga dia. Saya pakai di pertahanan kan aman. Jadi saya percaya dia,” ucapnya.

Purbaya juga pernah mengetes hacker tersebut dengan meretas jaringan LPS. Dia juga mengatakan, pernah memanggil satu grup hacker berjumlah 8 orang yang merupakan ranking 6 besar dunia.

“Jadi mereka biasa dipakai ngehack untuk tes Google dan lain-lain. Yaudah, datang ke tempat saya,” tuturnya.

Topik
Komentar

Visited 2 times, 1 visit(s) today