Suasana Pemberian PMT Lokal di Pos Gizi Gampong Paya Seunara, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang, Sabtu (25/10/2025). (Foto: Inilah.com/Syahidan).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Upaya mencegah kasus stunting, wasting hingga underweight di Gampong Paya Seunara, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang terus dilakukan dengan pendekatan berbasis pangan lokal.
Melalui kegiatan Pos Gizi dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal dari Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Provinsi Aceh, ibu-ibu dan balita diajak memahami pentingnya gizi seimbang dari bahan pangan di sekitar mereka.
Ahli Gizi Puskesmas Sukakarya Kota Sabang, Raihannah, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari edukasi gizi dan program intervensi langsung kepada keluarga yang memiliki anak bermasalah gizi. Menurutnya, tidak semua anak di Gampong Paya Seunara menjadi sasaran kegiatan ini.
“Hanya beberapa anak yang bermasalah gizi aja. Karena kan yang perlu kita perhatikan mungkin kan dengan masalah gizi sekarang itu kan yang wasting. Wasting ini yang berat badannya kurang gitu. Terus ada yang underweight juga,” kata Raihannah di Pos Gizi Gampong Paya Seunara, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang, Sabtu (25/10/2025).
Raihannah menjelaskan, jumlah anak stunting di Gampong Paya Seunara terus menurun dalam dua tahun terakhir. Saat ini, kasus stunting di Gampong tersebut ada 18 orang.
“Itu alhamdulillah sudah ada penurunan. Di tahun-tahun sebelumnya sudah pernah sampai di tiga puluhan sekian. Cuma alhamdulillah sekarang sudah mulai turun sedikit ya. Karena juga ada program juga dari puskesmas pemberian PMT lokal,” tuturnya.
Ia menyebutkan, program PMT lokal di wilayah ini sudah berjalan sejak 2023 dan menjadi bagian dari strategi Puskesmas Sukakarya dalam mencegah dan menurunkan kasus stunting.
“Mulai dari 2023 itu kan mulai ada PMT lokal, pemberian makanan tambahan yang berbasis pangan lokal. Jadi kan kita sekarang udah nggak menyarankan produk-produk pabrikan, kayak susu, terus biskuit-biskuit,” jelasnya.
Menurut Raihannah, pendekatan pangan lokal ini lebih efektif karena memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar masyarakat. “Jadi kita olah sendiri dari pangan-pangan lokal kita, jadi itu mungkin lebih efektif untuk pencegahan stunting, mungkin sama penurunan stunting juga,” ujarnya.
Ikan Laut dan Sayur Jadi Andalan
Ia mengakui bahwa lantaran kampung yang dikelilingi laut membuat bahan pangan laut mudah ditemukan, sehingga tak kehabisan stok pangan.
“Terus kalau sayur-sayuran kayak di atas ini, ada yang menanam-menanam sayur juga, kayak bayam, kangkung, yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk mereka sekitar gitu juga,” katanya.
Ia mengungkapkan, jenis ikan yang paling sering digunakan dalam menu PMT lokal di antaranya ikan tenggiri dan ikan kembung. Ia menyebut, pihaknya juga mewanti-wanti beberapa jenis ikan yang menimbulkan alegri.
“Kalau misalkan ikan tongkol, kan kita takut ada beberapa anak yang mungkin alergi atau gatal. Jadi terus kayak telur puyuh juga bagus untuk anak-anak, nutrisinya juga bagus,” ujarnya.
Selain makanan utama, PMT lokal juga dilengkapi makanan bergizi tinggi protein yang penting untuk mencegah stunting dan wasting.
Kemudian, ia menekankan pentingnya pencegahan stunting sejak dini, bahkan sebelum kehamilan, yakni sejak masih masa remaja.
“Karena kayak sekarang tuh sebenarnya dari remaja pun harus diperhatikan, karena kalau remaja kekurangan (kadar) Hb (hemoglobin), nanti saat dia hamil bisa melahirkan anak yang stunting,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyinggung beberapa tantangan dalam penerapan program gizi ini, di antaranya adalah kesadaran keluarga penerima manfaat.
“Terkadang kita sudah ngomong segala macam panjang lebar kan, tapi ada juga ibu-ibu yang kesadarannya masih kurang. Tapi ada juga yang mau mencoba. Itu sih yang mungkin jadi tantangan kita, yang belum ada kesadaran dari diri ibunya masing-masing,” ujarnya.














