Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani saat berbicara dalam acara peringatan Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (16/10/2025). (Foto: Inilah.com/Clara Anna)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Optimisme pemerintah terhadap target ambisius pertumbuhan ekonomi 8 persen pada akhir masa jabatan Prabowo Prabowo-Gibran Rakabuming Raka semakin diperkuat dengan laporan investasi semester pertama. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani memastikan bahwa realisasi investasi pada paruh pertama tahun 2025 telah berhasil menembus target yang dicanangkan.
Berbicara dalam acara peringatan Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (16/10/2025), Rosan mengumumkan bahwa realisasi investasi hingga Juni 2025 mencapai Rp942,9 triliun. Angka fantastis ini tidak hanya memenuhi ekspektasi pemerintah, tetapi juga menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 13,6 persen secara tahunan (year-on-year).
“Jadi memang kalau kita lihat investasi ini, Alhamdulillah di dalam semester pertama 2025, kita mencapai realisasi investasi sesuai dengan target kita… dan ini align dengan target kita pada akhir tahun,” ujar Rosan.
Keberhasilan ini, lanjut Rosan, menjadi indikator kunci yang membuka jalan bagi terwujudnya target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang sempat diragukan banyak pihak.
Jawa Barat dan Luar Jawa Memimpin
Dalam paparannya, Rosan memecah konsentrasi investasi, menunjukkan bahwa distribusi modal tidak lagi terpusat di satu wilayah. Kontribusi investasi dari luar Pulau Jawa bahkan melebihi Pulau Jawa.
“Kontribusi dari luar Jawa itu lebih besar, kurang lebih 50 persen, dan dari Jawa itu kurang lebih 45 persen,” terang Rosan.
Meskipun demikian, Pulau Jawa tetap menjadi kontributor utama secara individu. Lima besar lokasi penyumbang investasi terbesar adalah Jawa Barat: Rp141 triliun (15 persen), DKI Jakarta: Rp140,8 triliun (14,9 persen), Jawa Timur: Rp74,7 triliun (7,9 persen), Sulawesi Tengah: Rp64,2 triliun, dan Banten: Rp60,7 triliun
Sektor Hilirisasi dan Infrastruktur Mendominasi
Dominasi investasi terlihat jelas di sektor yang mendukung program hilirisasi industri dan konektivitas nasional. Lima subsektor dengan realisasi investasi terbesar mencerminkan fokus pemerintah pada pengolahan sumber daya alam dan infrastruktur.
Sektor Industri Logam Dasar (termasuk barang logam, bukan mesin, dan peralatannya) memimpin dengan realisasi sebesar Rp134,4 triliun. Ini menunjukkan dampak nyata dari kebijakan hilirisasi yang gencar dijalankan.
Sektor penting lainnya adalah Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi (Rp110,7 triliun), yang sangat vital untuk logistik nasional, serta Pertambangan (Rp102,2 triliun).
Dua subsektor lain yang menyusul adalah Jasa Lainnya (Rp85,7 triliun) dan Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran (Rp75 triliun).
Kehadiran Danantara Dongkrak Kepercayaan
Di akhir paparannya, Rosan menyinggung peran Badan Pengelola Investasi (BPI Danantara) sebagai katalis pendorong investasi yang masuk ke Indonesia. Menurutnya, keberadaan Danantara memberikan jaminan dan keyakinan lebih kepada investor, baik domestik maupun internasional.
“Dengan adanya Danantara ini juga, justru begitu saya bicara dengan para content investor, investor baik dalam maupun luar negeri pada saat kita berkunjung, itu memberikan keyakinan, dan confidence kepada para investor luar negeri, untuk investasi di Indonesia,” ucap Rosan.
Stabilitas angka investasi dan adanya lembaga pengelola dana abadi negara menjadi kombinasi kuat yang menjamin arus modal tetap deras mengalir.














