CEO dan pendiri perusahaan riset pasar keuangan Astronacci International, Prof Gema Goeyardi. (Foto: ANTARA/HO-Astronacci International).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Founder dan CEO Astronacci International, Prof Gema Goeyardi menyebut Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang ciamik. Namun, mengapa muncul narasi “Sale Indonesia” seolah-olah kondisi Indonesia seperti Zimbabwe.
“Kecuali kita hari ini chaos, masyarakatnya hancur-hancuran, perang di mana-mana. Nyatanya tidak. Mal-mal dan gedung bioskop masih ramai,” ungkap Gema, dikutip dari YouTube @astronacciinternational, Kamis (11/6/2026).
Tegas saja, Gema menyebut mata uang Garuda dihajar bertubi-tubi hingga terpuruk ke level terendah. Padahal, matriks ekonomi Indonesia berada dalam posisi positif.
“Para influencer justru menggoreng kondisi ekonomi Indonesia seolah-olah tidak ada harapan lagi. Ini memunculkan ketakutan atau kekhawatiran, khususnya dari kalangan investor atau pemilik modal,” bebernya.
Dia mempertanyakan indeks di sejumlah negara yang berada di zona hijau, sementara Indonesia bertahan di zona merah. Nasib serupa dialami indeks India (Sensex). Di mana, IHSG terjun bebas 36 persen, sedangkan Sensex anjlok 12,8 persen.
“Sejak awal saya curiga akan penurunan rupiah dan IHSG yang tidak sewajarnya. Kesimpulan saya, penurunan rupiah bukan karena dolar AS menguat, tetapi karena ada yang sengaja melakukan sell-off (jual) besar-besaran. Lalu uangnya lari ke mana? Larinya ke dolar Singapura. Ini temuan saya,” tegasnya.
Bisa jadi ini bukan suatu kebetulan ketika narasi Sale Indonesia menggema dari Singapura. Beberapa media di sana menyiarkan Indonesia seolah-olah tak memiliki fundamental ekonomi yang kuat.
“Narasi ‘Sale Indonesia’ digemakan di Singapura, Strait Times. Diberitakan seakan-akan Indonesia adalah negara paling jelek, paling busuk, dan semua fund manager sepakat untuk Sale Indonesia. Cabut dari Indonesia,” ungkapnya.
Di waktu yang sama, lanjut Gema, muncul dugaan terjadinya perpindahan dana besar-besaran dari Indonesia ke Singapura. “Ada apa dengan Singapura? What’s wrong with Singapore? Kenapa Anda menyorot Indonesia seperti ini,” tegasnya.
Pada 17 Mei lalu, Gema melihat hal yang tak lazim dari pergerakan rupiah dan dolar Singapura (S$) terhadap dolar AS. Di mana rupiah mengalami pelemahan, sementara dolar Singapura menguat. Selain itu, terlihat adanya aliran dana asing yang bergerak dari Indonesia ke Singapura.
“Artinya telah terjadi sell-off dan uangnya dipindah ke Singapura,” imbuhnya.
Menariknya lagi, lanjut Gema, setiap kali Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Prancis, rupiah dan IHSG langsung terjun bebas. Misalnya pada 23 Januari dan 14 April, rupiah dan IHSG langsung rontok.
Demikian pula kunjungan pada 26 Mei yang menghasilkan kesepakatan bisnis senilai Rp61,25 triliun. Namun, rupiah dan IHSG justru melemah.
“Orang boleh bilang semuanya itu hanya cocoklogi. Tapi nyatanya memang cocok,” tegasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











