Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie (tengah). (Foto: ANTARA/HO-Kadin Indonesia).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia tetap yakin, target investasi pada 2026 sebesar Rp2.175,3 triliun, bakal tercapai. Selaras dengan World Bank atau Bank Dunia yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di tahun ini.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie dalam “Global & Domestic Economic Outlook 2026” di Jakarta, Kamis (15/1/2026), menuturkan, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk mengakselerasi pertumbuhan investasi tahun ini.
Dari segi instrumen ekonomi, Anin, panggilannya, berpendapat dua faktor penting yang menjadi pertimbangan investasi adalah pertumbuhan dan stabilitas. “Kalau pertumbuhan, kita lihat tiga besarnya adalah Indonesia, selain India dan Vietnam. Tapi, dari sisi skala, tentu kita di atas Vietnam,” ujarnya.
Bersamaan dengan itu, Indonesia dinilai mampu mempertahankan stabilitas nasional. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang mengalami gejolak yang cukup dinamis, Ketum Kadin meyakini Indonesia mempunyai nilai jual untuk menarik investasi.
“Orang boleh bicara mengenai perekonomian yang lebih besar. Tapi, kalau tidak stabil, orang takut memberikan dananya. Nah, kita lihat Indonesia ini sangat besar potensinya,” tambah dia.
Modal penting lain yang juga dimiliki Indonesia, kata Anin, adalah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Kehadiran Danantara dianggap berperan dalam menjaga arus investasi, yang diyakini dapat terus mengakselerasi kinerja investasi.
“Tapi, memang kita tidak boleh lengah. Karena dunia ini lagi mencari bentuk baru dengan adanya perang dagang, perang fisik. Karena itu, kita semua mengerti kenapa kita juga mesti kuat di atas kaki sendiri,” tuturnya.
Proyeksi Bank Dunia
Dalam laporan terbaru dari Bank Dunia bertajuk ‘Global Economic Prospects’, menyebut, pertumbuhan ekonomi global diramalkan relatif stabil dalam dua tahun ke depan.
Di mana, laju ekonomi global diperkirakan tumbuh 2,6 persen pada 2026. Selanjutnya naik menjadi 2,7 persen pada 2027. Proyeksi ini lebih optimistis ketimbang proyeksi Juni lalu.
Ketahanan ekonomi global ini terutama ditopang oleh kinerja yang lebih baik dari perkiraan di Amerika Serikat (AS), yang menyumbang sekitar dua pertiga dari revisi kenaikan proyeksi pertumbuhan pada 2026.
Namun, Bank Dunia mengingatkan, gambaran besarnya tetap menantang. Jika tren ini berlanjut, dekade 2020-an berpotensi menjadi periode dengan pertumbuhan ekonomi global terlemah sejak 1960-an.
Laporan tersebut juga menyoroti kesenjangan standar hidup yang kian melebar. Pada akhir 2025, hampir seluruh negara maju telah mencatat pendapatan per kapita di atas level sebelum pandemi pada 2019.
Sebaliknya, sekitar satu dari empat negara berkembang justru masih memiliki pendapatan per kapita yang lebih rendah dibandingkan enam tahun lalu.














