Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kiri) bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso (kanan), Menteri KKP Sakti Wahyu (ketiga kanan), dan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri (kedua kiri), mengunjungi salah satu tenant usai membuka Trade Expo Indonesia 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (15/10/2025).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyatakan optimisme yang selaras dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menko Zulhas yakin betul bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai angka ambisius 6 persen pada 2026 mendatang. Keyakinan ini, tegasnya, bertumpu pada penguatan sektor pangan dan akselerasi hilirisasi pertanian yang kini menjadi program prioritas Pemerintah.
“Saudara-saudara, bayangkan, kalau kita berdaulat di bidang pangan saja, maka jutaan petani akan meningkat kemampuannya,” ujar Menko Zulhas dengan semangat saat menyampaikan sambutan pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (15/10/2025).
Ia mencontohkan dampak langsung program ini, “Sekarang harga gabah sudah Rp6.000-Rp7.000 per kg.” Kenaikan harga ini menunjukkan daya ungkit yang signifikan bagi kesejahteraan petani.
Etanol dan Metanol: Penggerak Baru Ekonomi dan Lahan Pertanian
Menko Zulhas menjelaskan bahwa penguatan sektor pangan tidak hanya berhenti pada harga komoditas. Ia menyoroti pengembangan industri berbasis etanol dan metanol sebagai pencipta nilai tambah besar bagi hasil pertanian domestik. Pengembangan ini akan menjadi motor penggerak ekonomi baru.
“Bayangkan, betapa akan meningkat kemampuan petani kita, kalau besok kita menuju 10% etanol dan metanol, berarti harus membangun industrinya,” kata Zulhas.
“Berarti kalau orang menanam jagung akan laku keras, kalau orang tanam singkong akan laku, karena itu untuk etanol dan metanol, bayangkan, tidak akan ada tanah kosong nanti,” imbuhnya, melukiskan masa depan di mana semua lahan pertanian termanfaatkan secara optimal.
Hilirisasi bahan pangan seperti singkong, jagung, dan tebu, menurut Menko Zulhas, akan menjadi tumpuan utama motor penggerak ekonomi baru, sekaligus memperkuat pilar ketahanan pangan nasional. Tanam singkong, jagung, dan tebu akan memiliki pasar yang terjamin karena permintaan industri etanol yang tinggi.
Potensi Kelautan dan Program Pangan Bergizi untuk 82 Juta Penerima
Selain pertanian darat, Menko Zulhas juga menyoroti potensi besar di sektor kelautan dan perikanan. Sektor ini akan memainkan peran krusial dalam mendukung program penyediaan Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi masyarakat, yang menyasar 82 juta penerima manfaat.
“Seluruh aspek nanti yang dikerjakan Pak Menteri Kelautan dan Perikanan, bikin tambak, perikanan tangkap dan seterusnya,” jelasnya. Ia memberikan ilustrasi besarnya permintaan yang akan muncul: “Kalau telur satu orang satu saja, perlu 82 juta butir telur.”
Angka fantastis ini menunjukkan peluang investasi dan pertumbuhan industri yang sangat besar.
Menko Zulhas menegaskan bahwa optimismenya terhadap pertumbuhan ekonomi 6 persen sejalan dengan pandangan yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
“Jadi Insyaallah, sebagaimana Menteri Keuangan sampaikan, bahwa pertumbuhan diperkirakan tahun depan akan 6 persen, ada yang mengatakan mustahil, Insyaallah itu akan kita kerjakan, dan insyaallah tahun depan akan menjadi kenyataan,” ujar Zulhas penuh keyakinan.
Ia menyimpulkan, jika semua kebijakan yang melibatkan sektor pangan, industri, dan energi terbarukan dapat berjalan efektif, maka target pertumbuhan 6 persen akan menjadi realitas.
“Mudah-mudahan 6 persen, kalau kebijakan-kebijakan ini bisa berjalan dengan baik, maka optimis, 2026 pertumbuhan ekonomi Indonesia sekurang-kurangnya akan mencapai 6 persen,” tutup Menko Zulhas.














