Terenyuh dengan Kasus Bunuh Diri Siswa SD Ngada, Deddy Mizwar Kirim ‘Surat’ Sentilan untuk Pemerintah

Terenyuh dengan Kasus Bunuh Diri Siswa SD Ngada, Deddy Mizwar Kirim ‘Surat’ Sentilan untuk Pemerintah

Aktor sekaligus budayawan Deddy Mizwar mengungkapkan keprihatinannya atas kasus bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tragedi tersebut diduga dipicu keputusasaan akibat kemiskinan ekstrem yang dialami keluarga korban.

Melalui akun Instagram pribadinya, @deddy_mizwar, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat itu mengunggah sebuah syair menyentuh yang ia sebut sebagai “surat”.

Tulisan tersebut tak hanya menjadi ungkapan duka, tetapi juga menyentil keras nurani pemerintah dan para pemangku kebijakan.

“Di Jerebuu yang sunyi, seorang anak kelas 4 SD menggantung mimpinya di dahan cengkeh yang terlalu tua untuk menampung duka sekecil itu. YBR. Yang hanya ingin buku dan pena. Dua benda sederhana yang tak pernah dianggap penting oleh para pemilik panggung retorika,” kata Deddy, membawakan syair tersebut dengan getir, dikutip Sabtu (7/2/2026).

Ia melanjutkan, kemiskinan menjadi tembok tinggi yang tak mampu ditembus oleh perjuangan seorang ibu.

“Ibunya menabung dengan air mata. Mengikat harapan dengan kain lusuh. Namun kemiskinan selalu lebih cepat daripada langkah seorang ibu. Dan sebelum pagi benar-benar lahir. Ia telah menulis surat terakhir. Bukan untuk dunia, tapi untuk perempuan yang ia panggil Mama,” tuturnya.

Syair tersebut kemudian berubah menjadi kritik sosial yang keras terhadap kondisi bangsa dan kepemimpinan.

“Dengan kata-kata yang jauh lebih tajam daripada pidato mana pun yang pernah dilontarkan oleh para pemimpin dan para penjilat yang bersorak di panggung politik yang penuh dusta! Betapa bising nya negeri ini, ketika mulut-mulut penuh janji tidak pernah mendengar anak kecil yang hanya meminta kesempatan hidup,” katanya tajam.

“Di bawah pohon cengkeh itu menjadi saksi bisu. Kita membaca ironi bangsa sendiri, bahwa kadang, yang mati bukan hanya seorang anak, tapi juga nurani kita,” ujarnya lagi.

Deddy menutup syairnya dengan ungkapan duka mendalam bagi sang ibu dan refleksi atas kegagalan kolektif sebagai bangsa. Tak lupa ia menyelipkan permintaan maaf karena merasa tak mampu memberikan pertolongan.

“Di Jerebuu, NTT. Di mana bumi masih menyimpan jejak sepasang kaki kecil yang tak sempat menuntut hak yang tak pernah didengar. Dan langit entah bagaimana. Tak lagi biru bagi seorang mama yang kehilangan dunia dalam selembar surat. Maafkan kami, Nak. Maafkan ketidakberdayaan kami untuk menolongmu,” ujarnya mengakhiri syair dengan tangis.

Visited 5 times, 1 visit(s) today