Ilustrasi TikTok. (Foto: Unsplash)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Platform hiburan digital TikTok mengumumkan telah menghapus lebih dari 25 juta konten sepanjang semester pertama tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 232.000 konten teridentifikasi terkait penipuan online.
Menurut Senior Manager PR and Communications TikTok Indonesia, Edwin Lengkei, sebanyak 94 persen konten berhasil dihapus secara proaktif sebelum sempat dilaporkan oleh pengguna.
“Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi pengguna dari berbagai bentuk manipulasi dan penipuan online,” ujar Edwin dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Komitmen Keamanan dan Literasi Digital
Edwin menegaskan bahwa keamanan pengguna merupakan prioritas utama TikTok. Untuk itu, platform menerapkan sejumlah langkah pengamanan seperti Panduan Komunitas, moderasi berlapis, serta berbagai fitur keamanan tambahan.
Selain itu, TikTok juga terus memperluas kampanye literasi digital #PikirDuaKali, yang dijalankan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi RI), Satgas PASTI, IM3, dan para kreator. Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan digital dan pencegahan penipuan di dunia maya.
“Tiktok tidak menoleransi segala bentuk manipulasi atau penipuan di platform kami. Semua konten yang melanggar Panduan Komunitas, termasuk penipuan online, akan langsung dihapus,” tegas Edwin.
Ia juga menambahkan bahwa fitur pelaporan di TikTok bersifat anonim, sehingga pengguna dapat dengan aman melaporkan konten mencurigakan tanpa takut diidentifikasi.
Tren Penipuan Digital di Indonesia
Dalam sesi dialog interaktif kampanye #PikirDuaKali, VP Head of National Digital Brand Engagement Strategy IM3, Hodo Purwoko, mengungkapkan bahwa 65 persen masyarakat Indonesia menerima upaya penipuan setiap minggu, baik melalui pesan seluler maupun kanal digital.
Modus yang umum digunakan antara lain hadiah palsu, lowongan kerja bodong, pesan spam, hingga investasi fiktif.
“Penipuan kini tak hanya lewat SMS atau telepon, tapi juga banyak terjadi di kanal digital dengan mengatasnamakan perusahaan. Karena itu, penting untuk selalu memverifikasi akun dan sumber informasi sebelum mengklik tautan,” ujar Hodo.
Edukasi Jadi Kunci
TikTok dan mitranya menilai edukasi publik merupakan langkah paling efektif dalam menghadapi maraknya phishing, penipuan digital, dan rekayasa sosial online.
“Pastikan sumber informasi berasal dari akun terverifikasi. Pelajari apakah tautannya resmi dan siapa pengirimnya. Dari sisi kami, IM3 terus berupaya memperkuat sistem proteksi agar masyarakat lebih terlindungi,” tambah Hodo.
Dengan berbagai langkah ini, TikTok berharap dapat menciptakan ekosistem digital yang lebih aman, transparan, dan berintegritas bagi seluruh pengguna di Indonesia.














