Tokyo ‘Obral’ Subsidi Mobil Listrik dan Hybrid

Tokyo ‘Obral’ Subsidi Mobil Listrik dan Hybrid

Pemerintah Metropolitan Tokyo makin serius ‘memaksa’ warganya berpaling dari kendaraan berbahan bakar fosil. Tak tanggung-tanggung, keran insentif untuk pembelian kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan hybrid kini dibuka lebih lebar dengan kenaikan nilai subsidi yang mencapai puluhan juta rupiah.

Mengutip laporan Carscoops, Rabu (12/8/2026), Pemerintah Kota Tokyo mengerek nilai subsidi hingga 300 ribu yen (sekitar Rp33,6 juta) untuk setiap transaksi unit baru.

Lewat kebijakan anyar ini, total subsidi bersih yang bisa diserap konsumen melonjak menjadi 1,3 juta yen (sekitar Rp145 juta) untuk kendaraan listrik murni, serta 1,15 juta yen (sekitar Rp128 juta) bagi pembeli mobil hybrid.

Program ini berlaku fleksibel, baik untuk pembeli perorangan maupun entitas bisnis, tanpa ada batasan kuota jumlah kendaraan.

Bisa Ditumpuk Kucuran Dana Pemerintah Pusat

Hebatnya lagi, skema subsidi daerah dari Pemerintah Metropolitan Tokyo ini bisa digabungkan dengan insentif milik pemerintah pusat Jepang yang nilainya mencapai 1,3 juta yen (sekitar Rp145 juta). Artinya, jika diakumulasikan, potongan harga total yang didapat konsumen bisa memangkas biaya pembelian kendaraan dalam jumlah yang sangat signifikan.

Tak hanya subsidi pemotongan harga unit, Pemkot Tokyo juga mempertahankan sederet bonus dana pendukung. Pembeli yang memilih mobil berteknologi penyalur daya listrik ke perangkat luar (vehicle-to-load) berhak mengantongi dana tambahan 100 ribu yen (sekitar Rp11 juta).

Nilai yang sama, yakni 100 ribu yen, juga diberikan untuk menyokong biaya pemasangan instalasi pengisian daya di rumah. Sementara bagi pemilik yang membuktikan rumah atau kantornya menggunakan listrik dari penyedia 100 persen energi terbarukan atau panel surya, pemerintah siap menyuntikkan dana ekstra antara 150 ribu hingga 300 ribu yen (sekitar Rp16 juta–Rp33 juta).

Merek Lokal Ketiban Pulung, BYD Dapat Paling Buncit

Meski diguyur dana melimpah, Pemkot Tokyo membedakan ‘jatah’ insentif tambahan berdasarkan asal produsen dan keandalan jaringan merek tersebut.

Laporan Nikkei Asia membeberkan, pembeli mobil listrik buatan pabrikan domestik seperti Toyota, Nissan, dan Honda mendapatkan perlakuan paling istimewa dengan tambahan subsidi mencapai 400 ribu yen (sekitar Rp44 juta).

Sementara bagi pembeli merek global seperti Mitsubishi, BMW, Mercedes-Benz, hingga Tesla, jatah insentif tambahannya dipatok di angka 300 ribu yen (sekitar Rp33 juta).

Di sisi lain, raksasa EV asal China, BYD, harus puas dengan porsi paling buncit. Pembeli unit BYD hanya diberi subsidi tambahan sebesar 100 ribu yen (sekitar Rp11 juta). Adapun pembeli merek Daihatsu untuk sementara waktu tidak mendapatkan kucuran insentif tambahan sama sekali.

Pola proteksi industri dalam negeri ini juga terlihat pada kebijakan pemerintah pusat Jepang. Subsidi nasional diketahui memprioritaskan kendaraan yang memanfaatkan baterai buatan dalam negeri, sedangkan pembeli BYD hanya mengantongi subsidi minimal sebesar 150 ribu yen (sekitar Rp16 juta).

Dongkrak Penetrasi EV yang Masih Seret

Langkah jorjoran yang diambil otoritas Tokyo ini bukan tanpa alasan. Penetrasi kendaraan listrik di Negeri Sakura sejauh ini terbilang cukup tertinggal dibandingkan negara-negara maju lainnya.

Sepanjang tahun 2025, porsi penjualan mobil listrik baru di Jepang baru menyentuh angka kisaran 1,6 persen dari total pasar otomotif nasional.

Melalui kombinasi garansi insentif untuk produsen yang sanggup menjual minimal 60 unit kendaraan bebas emisi di Tokyo, plus guyuran subsidi super tebal bagi konsumen, Tokyo berharap bisa mengakselerasi migrasi ke era transportasi hijau secara masif dalam beberapa tahun ke depan.

Visited 3 times, 3 visit(s) today