Penampakan wajah baru Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat. (Foto: BPMI Setpres).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Setiap hari, langkah Muhammad Sultan Daffa (26) mengikuti ritme Ibu Kota yang tak kenal henti. Namun, perjalanan pulangnya yang dulu kerap menjadi momok, kini berubah menjadi momen yang dinanti. Stasiun Tanah Abang, yang sebelumnya identik dengan kepadatan dan kesemrawutan, kini menyambutnya dengan wajah yang sama sekali baru.
“Kalau dulu tuh harus berdesak-desakan, naik turun tangga sempit, apalagi kalau jam pulang kerja. Sekarang lebih lega banget, jalannya luas, enggak terlalu capek kalau pulang,” tutur Sultan, pegawai Balai Kota Jakarta yang menjadi penumpang setia KRL rute Pondok Ranji-Tanah Abang ini.
Perubahan drastis itu bukan sekadar kesan. Revitalisasi senilai Rp380 miliar telah mengubah stasiun seluas 31.174 meter persegi itu menjadi bangunan megah berluas 19.000 meter persegi. Dengan 4 peron dan 6 jalur yang mampu menampung 12 gerbong sekaligus, stasiun ini dirancang untuk melayani ratusan ribu penumpang dengan lebih manusiawi.
“Sekarang jam-jam sibuk enggak terlalu mumpuk seperti dulu. Karena ada penambahan peron dan pintu keluar-masuk baru, jadi arus orang lebih lancar,” ujar Sultan, yang kini bisa dengan leluasa memilih untuk keluar melalui pintu lama atau yang baru tanpa harus berjuang menerobos kerumunan.
Kenyamanan itu terus dirasakannya hingga ke dalam stasiun. Ruang tunggu ber-AC, eskalator, lift untuk disabilitas, hingga ruang menyusui dan charging station menghilangkan kesan kumuh yang melekat selama bertahun-tahun. Suasana yang terang, bersih, dan tertata menciptakan pengalaman berperasaan yang benar-benar berbeda.
“Dulu sempit banget, sekarang jauh lebih lega di dalamnya. Rasanya progresif banget, memang membantu,” ucapnya. “Kalau di dalam, bersih banget. Hampir enggak ada pedagang kaki lima. Jadi rapi, lowong, dan nyaman.”
Namun, perjalanan Sultan belum sepenuhnya mulus. Begitu melangkah keluar dari kemegahan stasiun baru, ia dihadapkan pada realita lama, kemacetan dan kesemrawutan.
“Kalau mau ke TJ dari stasiun baru agak jauh sebenarnya, makanya kadang saya keluar lewat pintu lama. Tapi di depan stasiun sekarang lebih lega, jadi nunggu ojek atau TJ juga enggak sesak kayak dulu,” katanya.
Menurutnya, area luar stasiun masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Penumpukan ojek, bajaj, dan pedagang di trotoar masih mengganggu kelancaran lalu lintas. “Tapi begitu keluar, ya tetap macet karena banyak ojek, bajaj, dan pedagang di sekitar trotoar,” keluhnya.
Sultan pun memberikan masukan. Ia berharap Pemprov DKI Jakarta bisa menata kawasan tersebut dengan lebih baik. “Untuk angkot, sebaiknya ada lahan khusus naik-turun penumpang. Sekarang masih campur sama area ojek dan pedagang. Jadi kelihatannya berantakan,” tuturnya.
Ia juga punya solusi untuk pedagang kaki lima. “Bukan diusir, tapi dikasih ruang khusus di dalam area stasiun. Jadi tetap bisa jualan tapi enggak ganggu estetika dan kenyamanan penumpang,” tambahnya.
Perasaan ‘naik kelas’ ini juga dirasakan oleh pengguna komuter lain, Kiral Alneima (24). Baginya, Stasiun Tanah Abang Baru bagai secercah oasis di tengah hiruk-pikuk kota. “Jalur pemandu disabilitas ada, eskalator lengkap, ruang tunggu ber-AC, bahkan ruang menyusui. Dulu mana ada yang kayak begini. Sekarang terasa seperti naik kelas,” papar Kiral.
Revitalisasi Stasiun Tanah Abang membuktikan bahwa pembenahan infrastruktur publik bisa langsung menyentuh kehidupan warga. Dari stasiun yang panas, sesak, dan melelahkan, kini berubah menjadi ruang yang memuliakan penggunanya.
Namun, seperti pesan Sultan, keindahan di dalam harus berpadu dengan keteraturan di luar. “Dalamnya sudah bagus banget, tinggal luar stasiun saja yang perlu dibenahi biar semua terasa nyaman,” ungkapnya.














