Usulan ‘Radikal’ DPR Atasi Kepadatan di Mina: Bikin Tenda Tingkat buat Jemaah!

Usulan ‘Radikal’ DPR Atasi Kepadatan di Mina: Bikin Tenda Tingkat buat Jemaah!

Nebby Medium.jpeg

Sabtu, 30 Mei 2026 – 02:34 WIB

Suasana kota tenda Mina tempat jemaah haji melaksanakan ibadah Tarwiyah sebelum menuju Padang Arafah, Mekkah, Arab Saudi, Senin (26/6). Sekitar 2 juta jemaah haji dari berbagai negara akan memulai berwukuf di tempat ini sebagai syarat sah berhaji. (Foto: Haramain)

Suasana kota tenda Mina tempat jemaah haji melaksanakan ibadah Tarwiyah sebelum menuju Padang Arafah, Mekkah, Arab Saudi, Senin (26/6). Sekitar 2 juta jemaah haji dari berbagai negara akan memulai berwukuf di tempat ini sebagai syarat sah berhaji. (Foto: Haramain)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua Komisi VIII DPR RI yang juga anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji 2026 DPR RI, Marwan Dasopang, mengusulkan pembangunan tenda bertingkat di Mina untuk mengatasi persoalan kepadatan jamaah haji Indonesia saat puncak ibadah haji.

Usulan tersebut muncul karena area Mina dinilai semakin terbatas, sementara jumlah jamaah terus meningkat setiap tahun.

“Kita harus mulai memikirkan formula baru. Jika area Mina memang tidak bisa diperluas, maka perlu dipertimbangkan berbagai opsi seperti tenda bertingkat atau skema lain yang memungkinkan ruang bagi jamaah menjadi lebih longgar dan manusiawi,” kata Marwan di Makkah, Arab Saudi, Jumat (29/5/2026).

Menurut dia, solusi baru perlu segera dipikirkan agar kondisi kepadatan di Mina tidak terus berulang pada musim haji berikutnya.

Usul Skema Tanazul 

Selain tenda bertingkat, Marwan juga mengusulkan penerapan skema tanazul bagi jamaah Indonesia yang hotelnya berada dekat kawasan Mina.

Skema tanazul memungkinkan jamaah tidak bermalam di tenda Mina dan kembali ke hotel atau akomodasi yang telah disediakan.

“Dari sekitar 201 ribu jamaah Indonesia, mungkin ada sekitar 60 ribu jamaah yang dapat dipertimbangkan untuk mabit di hotel dengan pengaturan yang baik dan tetap sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Marwan menilai langkah tersebut dapat mengurangi kepadatan di area tenda sehingga jamaah yang tetap berada di Mina bisa memperoleh ruang lebih layak dan nyaman.

Meski demikian, ia mengakui penerapan skema tersebut membutuhkan kajian mendalam serta koordinasi dengan otoritas Arab Saudi.

Menurutnya, Kementerian Haji dan Umrah RI diharapkan dapat berperan aktif dalam melakukan komunikasi dan negosiasi dengan pemerintah Arab Saudi untuk mencari solusi jangka panjang.

“Ini bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan koordinasi yang kuat, dukungan regulasi, serta komunikasi yang intensif dengan pemerintah Arab Saudi,” katanya.

Marwan menegaskan persoalan di Mina tidak boleh terus berulang tanpa solusi konkret demi kenyamanan dan keselamatan jamaah Indonesia.

Fasilitas Belum Maksimal

Secara umum, Marwan menilai penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 Hijriah berjalan baik. Ia mengapresiasi seluruh tahapan pelaksanaan haji yang berlangsung sesuai agenda.

Namun, menurutnya, persoalan utama masih terjadi di Mina, terutama terkait kapasitas tenda dan fasilitas pendukung.

“Namun, kondisi di Mina masih menjadi tantangan utama. Kapasitas tenda dan area yang tersedia belum mampu memberikan ruang yang cukup nyaman bagi seluruh jamaah. Kepadatan masih terjadi dan dirasakan langsung oleh jamaah,” imbuhnya.

Selain ruang yang sempit, Marwan juga menerima sejumlah keluhan jamaah terkait fasilitas di Mina, mulai dari pendingin udara hingga pasokan air yang dinilai belum optimal.

Karena itu, ia meminta pemerintah mulai menyiapkan langkah baru dan terobosan kebijakan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi pada musim haji mendatang.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 4 times, 1 visit(s) today