Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Inilah.com/Clara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Dosen Manajemen Ekonomi dari Universitas Paramadina, Adrian Wijanarko mengapresiasi langkah berani Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa yang ingin mengusut dugaan ‘permainan’ simpanan berjangka atau deposito senilai Rp285,6 triliun di bank komersial.
“Artinya, selama ini memang ada permainan seperti ini yang kita tidak sadar. Sebagai pemimpin, Pak Purbaya memberikan sinyal positif terkait tata kelola fiskal yang sehat,” ucap Adrian kepada inilah.com di Jakarta, Senin (20/10/2025).
Dirinya meyakini bila Menkeu Purbaya berusaha membuat perekonomian negara berjalan dengan menggenjot government spending.
“Kalau di rumus GDP itu, government spending menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jadi daripada uangnya didiamkan dalam bentuk simpanan jangka panjang, lebih baik dibelanjakan, atau menjadi belanja pemerintah,” tuturnya.
Namun, Adrian mengingatkan Menkeu Purbaya agar berhati-hati, kalau hal itu masih sekadar dugaan. Tentu dalam pengusutannya tetap berpedoman kepada asas praduga tak bersalah.
“Perlu melakukan audit forensik untuk mengetahui cara ‘permainan’ mereka supaya belajar untuk kegiatan preventif nya. Ini sebenarnya bisa menjadi sinyal tata kelola yang buruk di Indonesia. Transparansi yang kurang, lemahnya peran BPK dan lembaga pengawas lainnya,” tuturnya.
“Hal ini perlu diperiksa juga, apakah penempatan bank itu basisnya karena bunganya tinggi atau tidak? Kalau bunganya biasa saja, kan ada risiko kerugian negara di dalamnya. Dan ini bisa dipidanakan,” pungkas Adrian.
Diketahui, Menkeu Purbaya berjanji akan mengusut dugaan permainan bunga dari deposito dana pemerintah pusat yang nilainya mencapai Rp285,6 triliun per Agustus 2025.
Dia memaparkan, simpanan berjangka atau deposito itu terus tumbuh sejak Desember 2023 yang mencapai Rp204,1 triliun. “Kita masih investigasi itu sebenarnya uang apa. Kalau saya tanya anak buah saya, mereka bilang enggak tahu. Tapi saya yakin mereka tahu,” ujar Menkeu Purbaya, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (16/10/2025) malam.
Menkeu Purbaya mempermasalahkan uang yang disimpan di bank komersial itu, pasti mendapatkan bunga. Tapi angkanya (bunga deposito) lebih rendah SBN (Surat Berharga Negara). Alhasil, Menkeu Purbaya menduga adanya permainan yan menyeret anak buahnya.
“Itu kan taruh uang di deposito yang dapat bunga, kan? Saya nggak tahu itu uang lembaga-lembaga di bawah kementerian atau yang lain. Tapi setahu saya sih, biasanya kan bank ngasih kode yang jelas. Kalau uang pemerintah ya uang pemerintah kan. Saya akan periksa nanti,” jelas dia.
Dia menduga, uang tersebut ditempatkan di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) alias bank BUMN. Untuk itu, dia akan melakukan pengecekan untuk mencari kejelasan uang tersebut.
“Ada kecurigaan mereka main bunga. Di banyak bank komersial kita, Himbara mungkin. Tapi, saya akan investigasi lagi itu uang apa sebetulnya. Dulu itu dianggapnya uang pemerintah pusat, di situ ditulisnya. Bisa saja LPDP dan seterusnya. Harusnya si terpisah kan. Nanti saya akan cek, itu uang apa sebetulnya. Itu terlalu besar kalau ditaruh di deposito seperti itu,” jelas Menkeu Purbaya.
“Karena pasti return dari bank-nya kan lebih rendah dari bunga yang saya bayar untuk obligasi, kan? Jadi saya rugi kalau gitu. Saya cek betul,” tambahnya.











