Tren perpindahan dari kendaraan bermesin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE) ke mobil listrik (Electric Vehicle/EV) terbilang cukup masif di Tanah Air. Namun, bagi pengemudi yang baru pertama kali menjajal mobil tanpa mesin bensin, pengalaman di balik kemudi bisa menyajikan kejutan yang perlu diwaspadai.
Perbedaan mendasar antara mobil bensin dan mobil listrik menuntut adaptasi gaya berkendara, terutama bagi para pemula. Hal ini penting untuk memastikan pengalaman mengemudi tetap aman, nyaman, dan efisien.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menekankan bahwa kunci utama adaptasi terletak pada pemahaman karakteristik torsi instan mobil listrik.
“Hal pertama yang perlu diingat adalah karakter torsi instan mobil listrik. Mobil ICE menggunakan transmisi dengan beberapa gigi dan memerlukan perpindahan supaya tenaga sesuai kecepatannya. Sementara itu, EV biasanya hanya satu gigi karena torsi instan sejak awal,” ujar Yannes, seperti dikutip dari Antara, Jumat (24/10/2025).
Jebakan Pedal Gas yang Spontan
Karakteristik torsi instan ini berarti motor listrik dapat menyalurkan tenaga maksimum sejak putaran awal. Dengan kata lain, respons pedal akselerasi mobil listrik jauh lebih spontan dan agresif dibandingkan mobil bensin.
Pada mobil konvensional, pengemudi perlu menekan pedal gas lebih dalam dan menunggu perpindahan gigi untuk mencapai akselerasi penuh. Di mobil listrik, cukup dengan sedikit tekanan, mobil dapat langsung melesat cepat.
Fenomena inilah yang kerap menjadi ‘jebakan’ bagi pengemudi pemula. Tekanan pedal yang terlalu dalam atau mendadak, terutama saat baru menjajal, dapat membuat mobil listrik ‘melompat’ secara tak terduga.
“Oleh sebab itu, biasakan menginjak pedal secara perlahan agar mobil tidak langsung melesat akibat torsi instan yang sangat responsif. Pengemudi harus mengubah kebiasaan menginjak pedal gas yang kasar dan mendadak,” tegas Yannes.
Memanfaatkan Rem Regeneratif
Selain mengontrol akselerasi, pengemudi mobil listrik juga disarankan untuk memaksimalkan fitur regenerative braking atau pengereman regeneratif. Fitur canggih ini umum terdapat pada EV dan menjadi salah satu keunggulan efisiensi energi.
Regenerative braking bekerja dengan mengubah energi kinetik dari proses perlambatan atau pengereman kembali menjadi energi listrik yang diisi ulang ke baterai. Efeknya, proses deselerasi terasa lebih halus, sekaligus menghemat penggunaan rem mekanis mobil.
“Fitur ini memungkinkan sebagian energi dari proses pengereman dikembalikan ke baterai, sehingga lebih efisien sekaligus membuat pengereman terasa lebih halus bagi pengemudi,” jelas Yannes.
Untuk memitigasi risiko di jalan raya, Yannes menyarankan pemula untuk tidak langsung menggunakan EV dalam aktivitas harian yang padat.
“Saat mulai memakai pertama kali, disarankan berkendara di rute pendek dan situasi yang aman sebelum digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Tujuannya supaya lebih nyaman memahami respons akselerasi dan karakteristik EV yang berbeda,” katanya.
Pada akhirnya, perbedaan terbesar mobil listrik dan bensin terletak pada pola akselerasi dan respons pedal gas. Mobil listrik menawarkan akselerasi yang lebih cepat dan halus tanpa jeda perpindahan gigi. Dengan memahami perbedaan krusial ini dan melatih kepekaan pada pedal, pengemudi pemula akan lebih percaya diri.
“Intinya, practice makes perfect. Dengan latihan dan pemahaman karakter kendaraan, pengemudi akan lebih percaya diri serta bisa menikmati pengalaman berkendara listrik yang aman dan efisien,” pungkas Yannes.














