delapan petenis terbaik siap bertarung di WTA Finals Riyadh 2025 (Foto:X/@TheTennisLetter)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Musim tenis 2025 WTA sudah memasuki penutup, delapan petenis terbaik selama satu musim, akan bertanding dalam WTA Finals Riyadh 2025 akhir pekan ini.
Mereka adalah Aryna Sabalenka, Iga Swiatek, Coco Gauff, Amanda Anisimova, Jessica Pegula, Elena Rybakina, Madison Keys, dan Jasmine Paolini.
Swiatek menjadi petenis tunggal termuda yang lolos ke WTA Finals lima kali berturut-turut setelah Victoria Azarenka dua belas tahun lalu.
Dengan segala kesuksesannya, termasuk enam gelar Grand Slam, Swiatek mengaku kadang lupa usianya masih 24 tahun.
“Bahkan saya pun lupa. Kadang saya merasa seperti sudah berusia 40 tahun,” kata Swiatek sambil tersenyum, dalam laman WTA.
“Yang pasti, kehidupan di tur itu seru. Mudah untuk melupakan betapa mudanya saya. Saya merasa seperti baru menjalani tur selama 10 tahun. Padahal, sudah enam tahun. Tur ini sangat sibuk. Ini hal yang saya senangi.”
Swiatek telah memenangi lebih dari 60 pertandingan selama empat tahun berturut-turut. Pada 2001 yang merupakan tahun kelahiran Swiatek, Martina Hingis dan Lindsay Davenport adalah petenis terakhir yang mencapai prestasi itu.
Juara Wimbledon itu akan menghadapi juara Australian Open, Madison Keys, pada pertandingan pertama dalam sektor tunggal WTA Finals.
Ia berusaha mengulangi gelarnya dalam WTA Finals 2023 di Cancun.”Saya masih muda, jadi masih banyak yang harus diubah dan ditingkatkan dalam permainan saya,” ujar Swiatek.
Tahun yang Kompetitif
Juara Grand Slam tahun ini menjadi empat petenis berbeda, yakni Keys di Australian Open, Gauff di French Open, Swiatek di Wimbledon, dan Sabalenka di US Open.
“Saya rasa sungguh luar biasa memiliki empat juara yang berbeda,” kata Gauff.
“Semua petenis putri telah menjalani tahun yang kompetitif sepanjang tahun. Saya rasa olahraga ini menjadi lebih menarik ketika banyak peluang terjadi.
Namun, Sabalenka harus melalui “pelajaran berat” ketika petenis No.1 dunia itu kalah dalam final dua Grand Slam pertama musim ini, tetapi bangkit untuk menjuarai US Open.
“Pada akhirnya, saya pikir itu adalah pelajaran yang sangat dibutuhkan,” kata Sabalenka.
“Saya harus belajar bagaimana mengendalikan diri dengan lebih baik lagi. Meskipun saya banyak berkembang, masih belum cukup baik. Saya pikir di final-final besar itu, satu hal yang hilang adalah emosi saya.”














