Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali dihujani kritik tajam. Kali ini datang dari Avigdor Lieberman, ketua partai oposisi Yisrael Beiteinu. Ia menuding Netanyahu telah membawa ‘kehancuran politik’ dan lebih mementingkan koalisi ketimbang keamanan negara.
“Kita berada dalam kehancuran politik; kita belum pernah terisolasi seperti ini. Tidak ada manajemen perang, yang ada hanyalah kelangsungan koalisi,” kata Lieberman kepada lembaga penyiaran publik Israel, KAN, dilansir Kamis (4/9/2025).
Lieberman juga mengkritik pemerintah yang dinilainya pasif dalam negosiasi dengan kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
“Yang mengganggu saya adalah ada inisiatif dari Mesir, Qatar, dan AS, tetapi saya tidak melihat adanya proposal dari Israel. Masalah dengan pemerintahan ini adalah pertimbangan politik selalu lebih penting daripada pertimbangan keamanan,” tegasnya.
Pada 18 Agustus lalu, Hamas sudah menyetujui proposal gencatan senjata dan pertukaran tawanan di Gaza. Proposal ini didukung penuh oleh para mediator. Namun, Israel belum juga memberikan respons.
Alih-alih menyambut negosiasi, Netanyahu justru memilih melanjutkan pendudukan di Gaza City dengan dalih membebaskan tawanan dan mengalahkan Hamas. Langkah ini diragukan banyak pihak, termasuk mantan pejabat. Bahkan, militer Israel sendiri memperingatkan bahwa operasi ini berisiko serius bagi nyawa para tawanan.
Sejak melancarkan serangan brutal di Jalur Gaza, Israel telah menewaskan lebih dari 63.700 warga Palestina. Kampanye militer itu juga telah menghancurkan Gaza dan menyebabkan bencana kelaparan.
Pada November tahun lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya, Yoav Gallant, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Tak cuma itu, Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait perangnya di wilayah tersebut.










