Carlos Alcaraz dalam motivasi berlipat saat mengetahui lawannya di semifinal US Open 2025 adalah Novak Djokovic.
Selain ingin mengkudeta gelar petenis nomor 1 dunia dari Jannik Sinner, Alcaraz punya catatan buruk saat melawan Djokovic.
Alcaraz yang hebat itu, dua kali tak bisa mengalahkan Djokovic dalam dua pertemuan terakhir mereka.
Dua pertemuan penting terakhir mereka adalah perempat final empat set di Australian Open pada Januari dan kekalahan yang memilukan dalam pertandingan perebutan medali emas di Olimpiade Paris tahun lalu.
“Novak, kita semua tahu permainan Novak. Tidak masalah dia sudah absen dari tur sejak Wimbledon. Dia memainkan pertandingan-pertandingan hebat di sini. Saya tahu dia haus kemenangan. Saya tahu saya sudah sering bertanding melawannya. Saya benar-benar ingin balas dendam. Itu jelas!” kata Alcaraz dikutip ATP.
Dalam catatan head to head, Djokovic yang masih penasaran dengan gelar juara Grand Slam ke-25, berada di atas Carlitos 5-3.
Hal ini tentu jadi dorongan tambahan untuk Alcaraz membuktikan diri sebagai petenis terhebat di generasinya, bersaing dengan Sinner.
Sementara itu, bagi juara empat kali US Open, Djokovic, misinya jelas, yakni menghentikan rentetan tiga kekalahan semifinal berturut-turut di turnamen major pada 2025, dan memperkuat tekadnya untuk meraih gelar juara Grand Slam ke-25 yang akan memperpanjang rekornya.
Jika pada babak-babak awal di New York memperlihatkan kelemahannya, maka pada pekan kedua Djokovic menunjukkan kekuatan penuh permainan mental dan taktisnya.
Setelah mengatasi kekhawatiran atas kebugaran fisiknya, petenis berusia 38 tahun itu tampil dominan mengalahkan Jan-Lennard Struff di babak keempat dengan straight set, kemudian menyingkirkan finalis tahun lalu,Taylor Fritz dalam empat set.
Namun, Djokovic tetap khawatir terhadap kondisi tubuhnya. Setelah kemenangan babak ketiga, ia dalam kondisi “paling khawatir yang pernah ia rasakan” di turnamen major, kekhawatiran yang masih terasa hingga semifinal.
Sejak menjadi runner-up di US Open 18 tahun lalu pada 2007, Djokovic hanya dua kali gagal mencapai setidaknya satu final major dalam satu musim, yakni 2009 dan 2017, ketika ia melewatkan turnamen Grand Slam terakhir tahun itu.














