Kemenkeu Pastikan Likuiditas Terjaga Usai The Fed dan BI Turunkan Suku Bunga

Kemenkeu Pastikan Likuiditas Terjaga Usai The Fed dan BI Turunkan Suku Bunga


Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu angkat bicara usai Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin di kisaran 4-4,25 persen.

Langkah The Fed tersebut juga diikuti oleh Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4,75 persen. Febrio memastikan bahwa likuiditas akan tetap terjaga.

“Pasar akan selalu dinamis. Jadi saat ini kita tentunya melihat ada ruang. Di satu sisi kita juga mendapatkan ruang dari global, itu bagus. Di sisi lain kita juga memang melakukan langkah strategis. Kemarin kan Pak Menteri memindahkan kas kita Rp 200 triliun dari Bank Indonesia ke perbankan. Itu menjadi tambahan likuiditas dengan biaya yang murah,” ujar Febrio kepada wartawan, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (18/9/2025).

Dia mengatakan, kebijakan tersebut akan berdampak langsung pada penurunan beban bunga penempatan kas negara.

“Karena biayanya itu kalau dengan BI kemarin turunkan ke Rp 4,75 triliun, ini artinya bunganya penempatan kita di sana kas itu Rp 3,8 triliun. Jadi ini juga membantu likuiditas yang murah bagi perbankan,” kata dia.

Febrio menjelaskan, ruang fiskal juga akan tetap terjaga seiring pemerintah mengeluarkan paket stimulus ekonomi dengan delapan program akselerasi, empat program lanjutan, serta lima program unggulan penciptaan lapangan kerja.

Selain itu, ada pula reformasi struktural Peraturan Pemerintah Nomor 28 tentang kemudahan berusaha yang berlaku mulai 5 Oktober, serta penyederhanaan aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang menjadi agenda fiskal.

“Ini banyak yang harus kita kerjakan apalagi belanja pemerintah tinggal 3,5 bulan lagi. Kita ingin cepat supaya dampaknya langsung terasa oleh masyarakat,” ucap dia.

Diketahui, untuk mendorong sektor riil bisa lari cepat, Bank Indonesia (BI) menurunkan lagi suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen.

Kebijakan bank sentral ini selaras dengan keputusan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menggelontorkan dana Rp200 triliun yang diparkir di brankas BI. Tujuannya sama, menghidupkan sektor riil agar perputaran ekonomi melesat.

Usai menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan September 2025, berlangsung Selasa (16/9) dan Rabu ini, diputuskan adanya pemangkasan suku bunga acuan, menjadi 4,75 persen.

“Suku bunga deposit facility turun 50 bps menjadi 3,75 persen, suku bunga lending facility turun 25 bps, menjadi 5,5 persen,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Rabu (17/9/2025).

Perry mengatakan, BI melihat, perekonomian dunia masih dalam tren melambat akibat dampak penerapan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS), dan ketidakpastian yang masih tinggi.

“Berbagai indikator menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi di sebagian besar negara disertai dengan disparitas pertumbuhan antarnegara,” ungkapnya.

 

Visited 1 times, 1 visit(s) today