Ilustrasi RAM 1500 REV. (Foto: ram.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ada kabar kurang sedap dari pabrikan otomotif raksasa Stellantis. Mereka resmi mengumumkan penghentian sementara produksi truk listrik andalannya, RAM 1500. Alasannya klise, tapi bikin para pencinta kendaraan listrik deg-degan: penjualan truk listrik berkapasitas besar lagi lesu.
Meski produksi disetop, nama legendaris RAM 1500 REV tetap dipertahankan. Justru, nama ini bakal disematkan pada truk pikap Range-Extended Electric Vehicle (REEV) Ramcharger, yang tadinya juga ditunda peluncurannya.
“Kendaraan ini akan menetapkan tolok ukur baru di segmen setengah ton, menawarkan jangkauan, kemampuan penarik, dan performa muatan yang luar biasa,” kata pihak perusahaan dalam pengumumannya, seperti dikutup dari The Verge, Minggu (21/9/2025).
RAM 1500 REV yang diperkenalkan di New York Auto Show 2023 sejatinya bakal mengaspal di paruh pertama 2024. Tapi, Stellantis lagi-lagi menunda hingga 2026. Prioritas perusahaan kini beralih ke truk hibrida bertenaga bensin, Ramcharger, yang juga sempat tertunda.
Keputusan mengejutkan ini datang di tengah gejolak internal Stellantis. CEO mereka, Carlos Tavares, baru saja mengundurkan diri setelah penjualan mobil buatan perusahaan anjlok tajam. Ini membuat Stellantis jadi pabrikan terbaru yang menunda atau bahkan membatalkan rencana pengembangan EV, menyusul langkah pemerintah federal AS yang menghapus kredit pajak dan insentif lain.
Efeknya langsung terasa. Penjualan truk listrik lain, seperti Ford F-150 Lightning, Rivian R1T, dan Tesla Cybertruck, juga melambat. Kenapa? Alasannya teknis, tapi krusial.
Truk listrik punya kelemahan besar: jangkauan baterainya anjlok drastis saat dipakai buat narik atau angkut beban berat. Ini jelas jadi pertimbangan utama konsumen yang butuh truk buat kerja keras. Selain itu, baterai besar dan berat yang dibutuhkan truk ini juga bikin biaya produksi melambung tinggi.
Dengan kondisi pasar yang tak menentu dan penghapusan insentif, para produsen otomotif kini lebih memilih mengerem rencana produksi. Mereka tak mau ambil risiko kerugian besar. Ini jadi alarm serius bagi masa depan truk listrik di pasar global.














