Petugas melayani konsumen di salah satu SPBU di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (5/9/2025). (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipasarkan Pertamina saat ini sudah disubsidi agar tetap sesuai daya beli masyarakat.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (1/10), Purbaya menyebutkan harga Pertalite (RON 90) yang dijual Rp10 ribu per liter seharusnya mencapai Rp11.700 per liter. Artinya, pemerintah menanggung subsidi Rp1.700 per liter untuk BBM jenis ini.
“Selama ini pemerintah menanggung selisih antara harga keekonomian dan harga yang dibayar masyarakat melalui subsidi dan kompensasi. Ini bentuk keberpihakan fiskal yang terus dievaluasi agar lebih tepat sasaran,” ujar Purbaya.
Anggaran Subsidi BBM
Menurut data APBN 2024, pemerintah mengalokasikan Rp56,1 triliun untuk subsidi Pertalite yang dinikmati 157,4 juta kendaraan. Jika dihitung rata-rata, setiap kendaraan memperoleh subsidi sekitar Rp355,7 ribu per tahun.
Untuk Solar, harga keekonomiannya diperkirakan Rp11.950 per liter. Namun di SPBU, masyarakat bisa membelinya Rp6.800 per liter. Dengan demikian, ada subsidi Rp5.150 per liter atau sekitar 43 persen dari harga asli.
Anggaran subsidi Solar tahun ini mencapai Rp89,7 triliun untuk lebih dari empat juta kendaraan diesel. Jika dibagi rata, setiap kendaraan mendapatkan manfaat subsidi setara Rp22,5 juta sepanjang 2024.
Bandingkan dengan Malaysia
Meski sudah ditekan melalui subsidi besar, harga BBM Indonesia masih lebih tinggi dibanding negara tetangga, Malaysia.
Di Negeri Jiran, RON 95 dijual 1,99 ringgit atau sekitar Rp7.864 per liter (kurs Rp3.952). Harga ini lebih rendah dari Indonesia, di mana Pertamax Green RON 95 dibanderol Rp13 ribu per liter.
Selain Pertamina, operator asing juga menjual dengan harga serupa. Shell V-Power RON 95 dan Vivo Revvo 95 sama-sama dipasarkan Rp13.140 per liter.
Evaluasi Keberpihakan Fiskal
Purbaya menekankan subsidi BBM adalah langkah strategis menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan harga energi global. Namun, ia menambahkan kebijakan subsidi akan terus dievaluasi agar lebih adil dan tepat sasaran.
“Ini bentuk keberpihakan fiskal yang akan terus kami perbaiki agar manfaatnya lebih berkeadilan,” tegasnya.














