Bank Sentral AS: Investor Asing Masih Belum Yakin dengan Perekonomian Indonesia

Bank Sentral AS: Investor Asing Masih Belum Yakin dengan Perekonomian Indonesia

Iwan Medium.jpeg

Senin, 6 Oktober 2025 – 22:28 WIB

Suasana bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok (Foto: Antara)

Suasana bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Mash tingginya tingkat ketidakpastian perekonomian Indonesia membuat investor kakap masih wait and see. Hal itu tercermin dari World Uncertainty Index (WUI) Indonesia di kuartal II-2025 mencapai level 1,10.

Adalah Federal Reserve Bank of St Louis yang merilis WUI Indonesia di kuartal II-2025 mencapai 1,10. Angka tertinggi sepanjang masa sejak data WUI pertama kali dicatat pada 1952.

Atas catatan itu, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufiqurrahman mengatakan, lonjakan WUI bukan hanya dipengaruhi faktor global. Namun mencerminkan disorientasi dari kebijakan domestik.

Dia mengatakan, pemerintah tengah menggeser fokus dari konsolidasi fiskal ke arah ekspansi belanja yang dilihat investor lebih bermotif politis. Selain itu, koordinasi antar-otoritas ekonomi di Indonesia, terkesan melemah.

“Bagi investor, sinyal ini menunjukkan kebijakan ekonomi kini lebih diwarnai pertimbangan jangka pendek daripada kepastian institusional dan keberlanjutan fiskal jangka panjang,” ujar Rizal, Jakarta, Senin (6/10/2025).

Rizal mengingatkan, lonjakan WUI memberi sinyal bahwa investor asing masih ragu dengan komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal dan stabilitas kebijakan makro.  Di mana, ruang fiskal menyempit, beban utang meningkat, membuat pelaku pasar menilai adanya risiko distorsi kebijakan moneter maupun pembiayaan publik.

“Menurut kacamata investor asing, kondisi ini bukan sekadar masalah teknis fiskal saja. Tapi ada gejala politik ekonomi. Bahwa keputusan ekonomi ditentukan oleh kalkulasi kekuasaan, bukan disiplin makro yang konsisten,” tambahnya.

Informasi saja, kuartal sebelumnya, WUI Indonesia berada di level 0,51. Indeks WUI yang disusun ekonom Hites Ahir, Nicholas Bloom dan Davide Furceri ini, menunjukkan peningkatan risiko dan ketidakpastian terhadap perekonomian Indonesia.

Dalam dua dekade terakhir, WUI Indonesia hanya berada di kisaran 0,3–0,8. Sebagai perbandingan, Indonesia pernah mencatat lonjakan WUI di kuartal II-1953 sebesar 1,07, dan kuartal II-2012 sebesar 0,87.

Artinya, lonjakan 2025 ini, bukan hanya yang tertinggi dalam 70 tahun terakhir, tetapi juga melampaui periode krisis besar, termasuk pada masa 1960-an dan awal 2000-an.

Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain, ketidakpastian ekonomi Indonesia juga menjadi yang paling tinggi. WUI Thailand tercatat 0,69, Malaysia 0,65, Vietnam 0,58, dan Filipina 0,50. Sementara Singapura berada di level 0,18 dan Myanmar 0,15.

Topik
Komentar

Visited 2 times, 1 visit(s) today