Petani tengah memanen pad di sawah mereka. Foto : Pinterest
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Peneliti dan pakar pangan Universitas Andalas, M Makky mengakui besarnya perhatian dari pemerintahan Prabowo Subainto terhadap nasib petani. Berbeda dengan era pemerintahan sebelumnya.
Salah satu alasannya, menurut Makky, penyuluh petanian di era Prabowo Subianto kerap turun langsung ke petani. Mereka memberikan atensi penuh terhadap berbagai kebutuhan petani. Mulai pupuk hingga bibit unggul. Semuanya dilakukan agar produksi padi bisa terus meningkat.
“Pemerintah saat ini, memiliki perhatiannya yang cukup besar. Bahkan boleh dibilang, besar sekali. Misalnya, penyuluhan petani, sekarang standby di lahan-lahan. Itu suatu hal yang nyata. Bahwa perhatian dari pihak komunitas itu ada, karena dia (penyuluh pertanian) berada di lahan,” ujar Makky dalam sebuah diskusi pangan di Jakarta, Sabtu (11/10/2025).
Selanjutnya dia mengingatkan, pemerintah pusat agar berhati-hati saat mengumumkan kebijakan impor beras. Karena, setiap pengumuman terkait importasi beras akan selalu berdampak kepada petani. “Informasi yang kadang membuat gundah petani. Membuat motivasi untuk besok enggak nanam lagi deh,” kata Makky.
Dikhawatikan Makky, petani menjadi tidak termotivasi atau mengalami demotivasi untuk menanam padi di lahannya. Dalam hal ini, pemerintah pusat seharusnya menunda pengumuman kebijakan yang nada-nadanya membuat petani menjadi tidak termotivasi.
“Lebih baik, misalnya, kalau ada kebijakan-kebijakan yang memang membutuhkan importasi, sifatnya sangat urgent, nah itu tidak dipublikasikan terlalu besar,” tuturnya.
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyebut, Indonesia siap menghentikan impor beras dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Langkah ini merupakan bagian dari rencana pemerintah mewujudkan swasembada pangan.
Ia berharap, tak ada bencana yang bisa menghambat kebijakan tersebut. “Alhamdulillah hari ini mudah-mudahan tidak ada aral melintang, dua bulan ke depan kurang lebih tiga bulan, Insya Allah Indonesia tidak impor lagi. Mudah-mudahan tidak ada iklim ekstrem, kita swasembada,” kata Mentan Amran di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Mentan Amran mengatakan, data BPS mencatat produksi beras Indonesia mencapai 33,1 juta ton dari Januari hingga November 2025. Kemudian produksi itu diperkirakan akan meningkat hingga menyentuh 34 juta ton pada akhir 2025. “Dibanding tahun lalu, produksi kita 33 juta ton,” ujar dia.
Selain itu, Mentan Amran mengatakan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memprediksi Indonesia akan bertengger sebagai nomor dua terbesar di dunia di bawah Brasil. “Saat ini, Nilai Tukar Petani (NTP) di Indonesia mengalami peningkatan,” pungkasnya.











