Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) bersama Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Oktober 2025 di Jakarta, Selasa (14/10/2025). (Foto: Antara Foto/Dhemas Reviyanto/nym).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) telah menyalurkan kredit produktif sebesar Rp112,4 triliun dari penempatan dana pemerintah atau Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun.
Dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Oktober 2025 di Jakarta, Selasa (14/10/2025), Purbaya menjelaskan, “Kalau kita lihat yang diserap sampai akhir September lebih dari Rp112 triliun telah disalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit produktif.”
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan realisasi penyaluran kredit produktif sebesar Rp27,6 triliun dari alokasi dana Rp55 triliun atau mencapai 50 persen. Capaian ini menempatkan BNI sebagai salah satu bank terbesar dalam penyaluran kredit produktif dari dana pemerintah, di belakang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang menyalurkan Rp40,6 triliun (74 persen) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sebesar Rp33,9 triliun (62 persen).
Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) telah menyalurkan Rp4,8 triliun dari alokasi Rp25 triliun (19 persen), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) merealisasikan Rp5,5 triliun dari Rp10 triliun (55 persen).
Menurut Purbaya, realisasi tersebut menunjukkan lebih dari separuh dana pemerintah telah berperan aktif dalam menopang konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menambahkan, efektivitas penyaluran kredit produktif juga tercermin dari meningkatnya pertumbuhan uang beredar. Data menunjukkan bahwa M0 atau base money melesat menjadi 13,2% dari sebelumnya hampir mendekati nol.
“Uang di sistem perekonomian telah bertambah signifikan,” tegas Purbaya.
Purbaya menegaskan inisiatifnya tersebut bukan hanya menyoal likuiditas perbankan, melainkan soal penciptaan efek berganda (multiplier effect), menurunkan “cost of fund”, mendorong pembiayaan sektor riil dan menjaga momentum pemulihan.
Dari sisi likuiditas, Purbaya menyebut kondisi sistem keuangan nasional tetap longgar, tercermin dari penurunan suku bunga pasar antarbank (PUAB). IndONIA turun dari 4,59 persen menjadi 4,04 persen, sedangkan JIBOR 7D turun dari 5,17 persen menjadi 4,86 persen.
“Jadi memang uang yang kami gelontorkan sudah bisa menurunkan tingkat suku bunga pasar antarbank yang tecermin dari IndONIA dan JIBOR 7D. Artinya bunga pinjaman juga akan turun. Jadi, dampak dari kebijakan kita riil,” kata Menteri Keuangan.














