Kantor pusat Waskita Karya. (Foto: Antara).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ternyata, era Presiden Jokowi yang gencar membangun infrastruktur khususnya jalan tol hingga 2.700 kilometer (km), melahirkan masalah keuangan nan serius bagi BUMN karya. Dirundung utang jumbo sehingga tak mampu mencetak laba.
Dari 7 BUMN karya, bisa jadi, nasib PT Waskita Karya (Persero/WSKT) Tbk yang paling apes. Karena itu tadi, WSKT cukup banyak pendapat perintah untuk membangun jalan tol. Sementara modal yang digelontorkan pemerintah, boleh dibilang ‘receh’. Alhasil, WSKT harus berburu dana utangan ke mana-mana.
“Saya menghitung total 18 ruas tol yang pernah dibangun Waskita, itu total nilai project-nya Rp167 triliun. Pemerintah hanya men-support Rp20 triliun,” terang Direktur Utama WSKT, Muhammad Hanugroho, Jakarta dikutip Rabu (5/11/2025).
Dikatakan Oho, sapaan akrabnya, skema pembangunan diterapkan lebih berbasis komersial, yang mana Waskita harus menanggung biaya pembangunan tidak tertutup oleh dukungan pemerintah. “Artinya memang ini ada support bagus juga, tetapi komersial base yang kami pakai, sehingga Waskita jadi begini,” katanya.
Dengan model pembiayaan proyek semacam itu, Ojo mengakui tingkat cost of fund yang harus ditanggung WSKT, membengkak. Tentu saja berdampak kepada keuangan perusahaan.
Agar bisa bertahan, lanjut Oho, WSKT membutuhkan nilai kontrak baru (NKB) terukur setiap tahunnya. Dalam hitungannya, paling tidak perseroan harus dapat memperoleh break even point (BEP) Rp14 triliun hingga Rp15 triliun, untuk proyek yang dijalankan.
“Sebenarnya BEP-nya berapa, sih, supaya kami bisa survive. Paling range Rp14 triliun-Rp15 triliun, ya. Kami dengan angka segitu sudah secure. Kami bisa service, lah, terkait biaya bunga dan lain-lain,” terangnya.
Direktur Keuangan Waskita Karya, Wiwi Suprihatno membeberkan beban berat perusahaan yang harus menanggung kerugian Rp3,6 triliun sepanjang Januari-September 2025.
Saat ini, kata Wiwi, perseroan masih dalam tahap pemulihan keuangan. Di mana, fokus utama perseroan adalah menurunkan liabilitas alias porsi utangnya yang terus menggunung. Bahkan nyaris di atas aset yang dimiliki. “Sementara itu dari sisi bottom line, rugi bersih masih tercatat sebesar Rp 3,6 triliun. Hal ini hampir masih mirip dengan tahun sebelumnya,” kata Wiwi.
Dia menerangkan, pendapatan WSKT sepanjang Januari hingga September 2025, mencapai Rp5,3 triliun. Atau turun 22 persen ketimbang periode yang sama di tahun lalu. Penurunan ini dipicu ambrolnya nilai kontrak yang dikelola, akibat penurunan NKB (nilai kontrak baru) yang diperoleh perseroan.
Pendapatan tersebut masih didominasi jasa konstruksi dengan kontribusi sebesar 71,2 persen. Proyek-proyek utama yang menopang pendapatan WSKT, antara lain berasal dari PT Hutama Karya, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), PT Jalan Tol Trans Jabar Tol, PT Jasa Marga Probolinggo Banyuwangi, dan PT Angkasa Pura II.
Meski masih didera tekor jumbo, kata dia, WSKT menunjukkan tanda perbaikan di sisi efisiensi. Alhasil, margin laba kotor naik dari 14,7 persen (Januari-September 224), menjadi 18,5 persen. Sedangkan EBITDA tercatat Rp29,3 miliar. Nilainya menurun, terutama dikarenakan adanya keuntungan dari divestasi pada ruas Tol Bocimi sebesar Rp250,4 miliar di tahun lalu.
Pada tahun ini, lanjutnya, keuntungan dari divestasi hanya berasal dari kegiatan divestasi Waskita Sangir Energi, sebesar Rp11,7 miliar.
“Dari sisi beban keuangan, berhasil dilakukan penekanan sebesar 18% secara year-on-year dari Rp3,5 triliun menjadi Rp2,8 triliun. Yang ini tentunya mencerminkan adanya perbaikan likuiditas dan manfaat dari terlaksananya proses restrukturisasi yang sampai dengan saat ini masih berjalan,” imbuh Wiwi.














