Konvoi truk bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza masih tertahan di perbatasan Rafah, Mesir. (Foto: Dok. OCHA)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Janji perdamaian yang diiringi dengan gencatan senjata di Jalur Gaza ternyata belum sepenuhnya membawa angin segar bagi jutaan warga sipil yang membutuhkan. Meskipun ada peningkatan signifikan dalam volume bantuan yang masuk sejak jeda pertempuran disepakati, badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali melontarkan keluhan keras: penghapusan hambatan masih berjalan lambat, yang berarti kebutuhan mendesak di Gaza masih jauh dari terpenuhi.
Situasi kemanusiaan di Gaza, yang sebagian besar wilayahnya luluh lantak, memang masih memprihatinkan. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) secara gamblang menyatakan bahwa jalur penyaluran bantuan masih sangat terbatas.
“Penyaluran bantuan masih dibatasi hanya melalui dua pos perlintasan saja,” ujar OCHA, seperti dikutip Sabtu (8/11/2025).
Ini berarti tidak ada akses langsung yang memadai, baik dari Israel menuju Gaza utara, maupun dari Mesir menuju Gaza selatan.
Lebih parah lagi, OCHA menyoroti bahwa sejumlah barang esensial dan bahkan staf dari berbagai organisasi nonpemerintah (LSM) masih tidak diizinkan masuk, menciptakan botol leher (bottleneck) yang menghambat upaya penyelamatan nyawa.
Pengungsi Sesak, Perlindungan Jauh dari Layak
Kondisi tempat tinggal para pengungsi adalah krisis dalam krisis. Mitra PBB yang fokus pada bantuan tempat perlindungan melaporkan bahwa mayoritas pengungsi masih terpaksa tinggal di situs darurat yang sudah terlalu penuh sesak. Banyak dari kamp-kamp dadakan ini didirikan secara spontan di area terbuka dan, yang paling mengkhawatirkan, di lokasi yang tidak aman.
Badan-badan kemanusiaan meyakinkan bahwa begitu hambatan administrasi dan akses logistik dihapus, mereka sebenarnya memiliki cukup material untuk menopang hampir 1,5 juta warga Palestina yang sangat membutuhkan bantuan. Namun, ‘rem tangan’ yang menahan kelancaran masuknya material ini yang menjadi masalah utama.
Kabar Baik di Sektor Pangan, tetapi Lahan Pertanian Hancur
Meski situasi keseluruhan masih terhambat, ada kemajuan yang patut dicatat di bidang pangan. Sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober hingga 3 November, PBB dan mitra-mitranya telah berhasil mengumpulkan lebih dari 37.000 ton bantuan dari pos-pos perlintasan Gaza. Menurut Mekanisme 2720 PBB, mayoritas dari bantuan besar ini adalah bahan makanan.
Program Pangan Dunia (WFP) juga menunjukkan kinerja impresif pasca-gencatan senjata, dengan berhasil menjangkau lebih dari 1 juta orang. Bantuan yang disalurkan mencakup distribusi makanan, makanan panas, bantuan roti, camilan bergizi untuk anak-anak, layanan gizi yang diperluas, hingga bantuan tunai digital yang sangat krusial.
Sayangnya, kabar baik ini dibayangi oleh kerusakan permanen pada sektor pangan lokal. OCHA merujuk pada analisis geospasial terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Pusat Satelit PBB, yang menunjukkan bahwa hanya 13 persen lahan pertanian di Jalur Gaza yang masih utuh (belum rusak).
Tragisnya, sebagian besar lahan yang tersisa itu pun tidak dapat diakses karena terletak di wilayah yang masih diduduki atau ditempati oleh pasukan militer Israel.
Penghalangan akses dan hambatan birokrasi ini jelas menghambat proses pemulihan dan memperpanjang penderitaan warga sipil Gaza.














