Ironi Green Economy: 75 Persen Baterai EV Bekas China ‘Dikuasai’ Bengkel Ilegal

Ironi Green Economy: 75 Persen Baterai EV Bekas China ‘Dikuasai’ Bengkel Ilegal

Ambisi besar China memimpin revolusi kendaraan listrik (EV) global menyisakan sisi gelap yang mengerikan. Alih-alih masuk ke jalur resmi yang ramah lingkungan, sekitar 75 persen baterai EV bekas di Negeri Tirai Bambu justru jatuh ke tangan pasar ‘abu-abu’ –bengkel-bengkel ilegal tanpa izin yang beroperasi di lorong-lorong rahasia.

Laporan CarNewsChina merujuk investigasi media lokal Yicai pada Jumat (30/1/2026), mengungkap fakta mencengangkan. Di pinggiran Kawasan Industri Qingcaowo, Huizhou, sebuah bengkel tanpa papan nama menjadi saksi bisu bagaimana ratusan paket baterai ‘disiksa’ secara berbahaya. Tanpa alat pelindung diri (APD), para pekerja membongkar sel baterai menggunakan bor dan mesin potong seadanya.

Cuan Gede di Balik Risiko Nyawa

Motifnya klasik: uang. Wu Lei (nama samaran), seorang pengelola bengkel ilegal, membeberkan bahwa bisnis ini sangat menggiurkan. Mereka membeli paket baterai bekas dari perusahaan asuransi, rumah lelang, hingga pemilik pribadi dengan harga lebih tinggi 30 persen dibanding perusahaan resmi.

Strateginya sederhana namun mematikan. Sel yang masih memiliki kapasitas di atas 50 persen ‘dipercantik’ dengan lapisan baru, lalu dijual kembali sebagai baterai motor roda tiga atau power bank. Sementara sel yang rusak dihancurkan untuk diambil logam berharganya seperti nikel, kobalt, dan litium.

Keuntungannya? Untuk satu mobil EV dengan daya jelajah 600 km, bengkel nakal ini bisa meraup laba hingga 10.000 yuan atau setara Rp24 juta. Angka yang cukup untuk membuat mereka berani mengabaikan prosedur keselamatan dan standar lingkungan.

Industri Resmi ‘Mati Suri’

Dominasi pasar gelap ini membuat industri daur ulang resmi China kelabakan. Berdasarkan White Paper industri daur ulang 2024, kapasitas daur ulang resmi China sebenarnya mencapai 3,8 juta ton. Namun mirisnya, perusahaan yang masuk ‘daftar putih’ pemerintah hanya mampu menyerap 623 ribu ton.

Artinya, pemanfaatan kapasitas resmi tak sampai 18 persen. Sisanya ‘dicegat’ di tengah jalan oleh para pemain ilegal yang berani membayar lebih mahal namun abai terhadap pemulihan logam yang presisi. 

Sebagai perbandingan, raksasa seperti CATL mampu memulihkan litium hingga 90 persen, sementara bengkel kecil hanya menghasilkan ‘bubuk hitam’ mentah yang tidak efisien.

Bom Waktu 2030

China kini duduk di atas bom waktu. Proyeksi menunjukkan pada 2025 akan ada 820.000 ton baterai yang memasuki masa pensiun, dan melonjak hingga di atas 1 juta ton pada 2030. Jika tak dibenahi, limbah ini bukan lagi jadi bahan baku hijau, melainkan polutan berbahaya.

Pemerintah China sebenarnya tidak tinggal diam. Per April mendatang, regulasi baru bertajuk Interim Measures akan diberlakukan untuk memperketat sistem keterlacakan (traceability). Namun, tantangannya tetap besar selama hukum pasar “penawar tertinggi yang menang” masih berkuasa.

Ini menjadi alarm bagi dunia: transisi energi hijau memerlukan pengawasan dari hulu ke hilir. Tanpa regulasi yang menggigit di rantai daur ulang, kendaraan listrik yang digadang-gadang bersih justru bisa meninggalkan jejak kotor di belakang layar.

Visited 8 times, 1 visit(s) today