Misteri Raja Batu Bara Dato Low Rogoh Kocek Rp6,5 Miliar untuk Lukisan ‘Kuda Api’ Karya SBY

Misteri Raja Batu Bara Dato Low Rogoh Kocek Rp6,5 Miliar untuk Lukisan ‘Kuda Api’ Karya SBY

Iwan Medium.jpeg

Kamis, 19 Februari 2026 – 20:40 WIB

Kepala Badan Pembinaan Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (BPOKK) Demokrat Ossy Dermawan melelang lukisan karya mantan Presiden SBY di perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang digelar Partai Demokrat di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (18/2/2026). (Foto: DPP Partai Demokrat)

Kepala Badan Pembinaan Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (BPOKK) Demokrat Ossy Dermawan melelang lukisan karya mantan Presiden SBY di perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang digelar Partai Demokrat di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (18/2/2026). (Foto: DPP Partai Demokrat)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Hobi melukis mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ternyata ada gunanya juga. Bahkan punya nilai ekonomi yang lumayan tinggi.

Saat dilelang di peringatan Imlek Partai Demokrat, Jakarta, Rabu (18/2/2026), lukisan ‘Kuda Api’ karya SBY tembus Rp6,5 miliar. Pembelinya tentu bukan orang sembarangan.

Ya, betul. Pembelinya adalah Low Tuck Kwong yang dikenal sebagai raja batu bara Indonesia. Atau akrab disapa Dato Low yang merupakan pemilik Bayan Group.

Pengusaha yang masuk jajaran ‘manusia’ terkaya di Indonesia ini, lahir di Singapura pada 17 April 1948. Kemudian pindah ke Indonesia pada 1972, dan resmi menjadi WNI pada 1992

Per 2026, mengutip data Forbes, kekayaan Dato Low, mencapai US$20,3 miliar atau sekitar Rp335 triliun dengan asumsi kurs Rp16.500/US$.

Jumlah asetnya memang masih di bawah Prajogo Pangestu yang menjadi orang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan US$29,9 miliar.

Pendiri Bayan Resources

Dato Low ini, membangun bisnis batu bara dari bawah. Sekitar akhir 1990,  mencoba peruntungan dengan membeli tambang batu bara lewat PT Gunungbayan Pratamacoal. Cikal bakal Bayan Resources.

Tampilan Low Tuck Kwong (Foto: Ahmad Zamroni/Forbes Indonesia)
Tampilan Low Tuck Kwong (Foto: Ahmad Zamroni/Forbes Indonesia)

Tak mau berlama-lama, dia mendirikan Bayan Resources, yang menjadi salah satu perusahaan pertambangan batu bara terbesar di Indonesia.

Pada 2008, Bayan Resources melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode emiten BYAN. Di kalangan pemain batu bara di Tanah Air, Bayan Resources berada di urutan ketiga, setelah Bumi Resources dan Adaro Energy. 

Selain itu, dia tercatat sebagai pemilik saham pengendali Metis Energy, sebuah perusahaan energi terbarukan yang berbasis di Singapura. Serta memiliki saham di sejumlah perusahaan seperti The Farrer Park Company dan Samindo Resources.

Bisa dibayangkan berapa besar asetnya, sehingga enteng saja merogoh duit Rp6,5 miliar. hanya untuk sebuah lukisan yang diciptakan SBY. Padahal, Saat ini, perekonomian sedang tidak baik-baik saja.

Daya beli rakyat tersungkur, membuat pelaku usaha mengeluhkan omzetnya terjun bebas. Pun demikian dengan kondisi global. Banyak negara mengurangi belanja, berdampak kepada ekspor barang khususnya sumber daya alam asal Indonesia, terjun bebas.

Alhasil, banyak pengusaha mengalami kesulitan keuangan. Termasuk pengusaha tambang, tertimpa nasib yang sama. Harga komoditas tambang merosot tajam, karena itu tadi: sepinya permintaan. Sehingga tak sedikit yang harus menutup usahanya.

Namun kondisi berat yang dialami banyak pengusaha, naga-naganya itu tak berlaku untuk Dato Low. Mungkin karena asetnya sudah terlanjur banyak. Bisnis batu baranya lancar jaya sejak dulu.

Karena izin tambangnya dipermudah saat presiden asal Pacitan itu, berkuasa dua periode (2004-2014). Sehingga Dato Low rela merogoh kocek dalam-dalam untuk sekadar balas budi.

Atau mememang karena nama baik, serta reputasi SBY menjadi faktor penting yang memengaruhi para pengusaha kakap berani menawar tinggi. Semuanya bisa jadi.

Visited 6 times, 1 visit(s) today