Harga Emas Makin Gila, Pekan Depan Bisa Tembus Rp3,1 Juta per Gram

Harga Emas Makin Gila, Pekan Depan Bisa Tembus Rp3,1 Juta per Gram

Reza Medium.jpeg

Minggu, 12 April 2026 – 19:26 WIB

Harga emas sudah meningkat sangat tinggi namun tetap masih menjadi buruan investasi warga (Foto: Antara Foto/Khalis Surry/nym)

Harga emas sudah meningkat sangat tinggi namun tetap masih menjadi buruan investasi warga (Foto: Antara Foto/Khalis Surry/nym)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Bagi Anda yang baru mau investasi emas, sepertinya harus siap menarik napas panjang. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, meramal harga logam mulia di pasar domestik bisa melonjak gila-gilaan hingga menyentuh Rp3,1 juta per gram dalam sepekan ke depan, seiring dengan penguatan harga emas dunia yang diperkirakan melampaui level 5.000 dolar AS per troy ounce.

Pada Sabtu (11/4/2026), emas dunia tercatat berada di level 4.749 dolar AS per troy ounce, sementara harga domestik masih berada di kisaran Rp2.860.000 per gram.

“Dalam sepekan ke depan, harga emas dunia berpotensi menembus di atas 5.000 dolar AS per troy ounce hingga 5.138. Harga logam mulia bisa mendekati Rp3.100.000 per gram,” kata Ibrahim, Minggu (12/4/2026).

Meski ada tren penguatan, Ibrahim mengingatkan adanya ruang koreksi yang lebar. Jika terjadi tekanan, harga emas dunia bisa turun ke level 4.638 hingga 4.358 dolar AS per troy ounce. Kondisi ini akan menyeret harga domestik ke kisaran Rp2.840.000 hingga Rp2.780.000 per gram.

“Dalam sepekan, penurunan bisa terjadi hingga 4.358 dolar AS per troy ounce,” ujar Ibrahim.

Ketidakpastian ini dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama rencana perundingan Amerika Serikat dan Iran. Jika kesepakatan atau gencatan senjata tercapai, harga minyak dunia diperkirakan turun dan akan menekan harga emas.

“Jika terjadi gencatan senjata, harga minyak berpotensi turun dan berdampak pada pergerakan emas,” ucap Ibrahim.

Namun, risiko kenaikan harga tetap terbuka jika perundingan gagal. Gangguan pada distribusi energi di Selat Hormuz dapat memicu inflasi dan memperkuat dolar AS, yang justru membuat emas semakin dicari sebagai aset lindung nilai.

“Jika konflik berlanjut dan distribusi minyak terganggu, dolar bisa menguat dan inflasi meningkat,” lanjut Ibrahim.

Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah yang masih tertahan di atas level 17.000 per dolar AS turut menjadi faktor pendorong tingginya harga emas di pasar domestik.

Ditambah lagi, adanya peningkatan permintaan emas oleh bank sentral global untuk diversifikasi cadangan devisa. Pergerakan harga sepekan ke depan akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter dan stabilitas politik dunia.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 9 times, 1 visit(s) today