Ilustrasi – Kegiatan pelepasan ekspor perdana pupuk berbahan dasar rumput laut (biostimulan) ke Jepang yang berlangsung di Sekretariat Tim Pemenangan Terpadu (TPT) Mirza-Jihan, Rabu (20/11). (Foto: ANTARA/HO-Istimewa)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menilai Indonesia berpeluang mengekspor pupuk sebanyak 1,5 juta ton hingga 2 juta ton ketika distribusi pupuk global terganggu konflik Timur Tengah.
Dia mengatakan, peluang tersebut ditopang kapasitas produksi pupuk nasional yang mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk sekitar 9,4 juta ton pupuk urea.
“Indonesia memiliki potensi besar sebagai eksportir pupuk, khususnya urea, dengan kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun dan potensi ekspor sekitar 1,5–2 juta ton setelah kebutuhan domestik aman,” kata Esther di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Menurut dia, peluang ekspor terbuka karena Indonesia masih memiliki sisa produksi komersial setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Negara tujuan utama yang berpotensi menyerap pupuk Indonesia antara lain India, Australia, dan Filipina, selain peluang ekspor pupuk organik ke berbagai negara.
Esther menjelaskan, tingginya kapasitas produksi nasional menjadi faktor utama yang mendukung Indonesia mengambil peluang di pasar pupuk global. “Faktor pendukung utama Indonesia sebagai eksportir pupuk, khususnya urea, adalah tingginya kapasitas produksi nasional yang melebihi kebutuhan domestik,” ujarnya.
Selain itu, lanjut dia, Indonesia juga ditopang ketersediaan bahan baku yang melimpah, tingginya permintaan global akibat gangguan pasokan, serta efisiensi industri pupuk yang memungkinkan sebagian produksi diekspor.
Menurut Esther, peluang tersebut berpotensi memberikan manfaat ekonomi berupa tambahan devisa sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar pupuk global.
Ia menilai ekspor pupuk juga dapat berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan regional karena membantu memenuhi kebutuhan negara lain saat pasokan global terganggu.
Meski demikian, dia mengingatkan pemerintah tetap harus menempatkan kebutuhan domestik sebagai prioritas utama sebelum memperluas ekspor.
“Pemerintah harus tetap memprioritaskan kebutuhan domestik, sehingga ekspor dilakukan saat stok dalam negeri aman, menjaga stabilitas harga dan produksi petani,” ucapnya.
Menurut dia, pengelolaan ekspor yang tepat menjadi kunci agar peluang pasar global dapat dimanfaatkan tanpa mengganggu pasokan pupuk di dalam negeri.
Ia menambahkan, langkah tersebut penting agar ekspor pupuk tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional, tetapi juga menjaga keberlanjutan produksi pertanian nasional.
“Petani domestik tetap harus diprioritaskan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi guna menjaga produktivitas pertanian,” tutur Esther.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut Indonesia siap mengekspor sekitar 1,5 juta ton pupuk seiring terganggunya jalur distribusi global di Selat Hormuz akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Gangguan tersebut terjadi karena sekitar sepertiga distribusi pupuk dunia melewati jalur tersebut, sehingga banyak negara mengalami kesulitan pasokan dan mulai mencari alternatif dari Indonesia.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














