Eng Hian: Detak Jantung Alwi Farhan Tembus 200 saat Tampil di Thomas Cup

Eng Hian: Detak Jantung Alwi Farhan Tembus 200 saat Tampil di Thomas Cup

Haris_Medium_dfc3c72d48.avif

Jumat, 8 Mei 2026 – 19:00 WIB

Tunggal Putra Indonesia, Alwi Farhan. (Foto: Dok. PBSI).

Tunggal Putra Indonesia, Alwi Farhan. (Foto: Dok. PBSI).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Eng Hian, mengungkap salah satu faktor yang dinilai membuat performa Tim Thomas Indonesia tidak maksimal pada Thomas Cup 2026.

Tim Thomas gagal total setelah untuk pertama kalinya tersingkir di fase grup usai kalah telak 1-4 dari Prancis pada laga penentuan. Hasil ini menjadi catatan buruk karena Indonesia belum pernah gagal lolos dari fase grup sejak debut pada 1958.

Dalam sesi jumpa pers di Pelatnas PBSI Cipayung, Jumat (8/5/2026), Eng Hian menilai tekanan dan ketegangan berlebih menjadi salah satu akar persoalan yang dialami para pemain selama tampil di Horsens, Denmark.

Ia mencontohkan kondisi yang dialami tunggal putra muda Alwi Farhan saat turun sebagai tunggal kedua melawan Alex Lanier. Saat itu, Indonesia dalam posisi tertinggal 0-1 usai Jonatan Christie takluk dari Christo Popov.

Berdasarkan data perangkat pemantau yang dipasang di tubuhnya, detak jantung Alwi tercatat menembus angka di atas 200 bpm (beats per minute), angka yang dinilai terlalu tinggi untuk kondisi pertandingan.

“Kalau rekan-rekan tahu, seorang Alwi Farhan, kan kita sekarang pakai device nih. Waktu kita bisa track, kok ketegangan dia itu heart rate dia itu di atas 200. Ini bagaimana kita mau turun kan? Yang bisa ngontrol kan dirinya sendiri. Seorang psikolog pun siapa minta panggil,” kata pria yang akrab disapa Ko Didi itu.

Menurut Eng Hian, kondisi tersebut menunjukkan faktor mental bertanding masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi PBSI. Ia menilai persoalan utama bukan sekadar teknik atau fisik, melainkan kemampuan atlet mengelola tekanan di pertandingan beregu.

“Nah ini yang harus kami perbaiki ke depannya, bagaimana atlet ini nantinya, pastikan di dalam pertandingan itu tidak terlepas dari faktor ketegangan, ya,” ujarnya.

“Ini kita jadikan ke depannya akan menjadi PR kami pertama. Untuk bagaimana kami terus mencari permasalahan-permasalahan inti yang menghambat untuk prestasi dan potensi atlet-atlet,” kata dia menambahkan.

Selain kesulitan mengelola tekanan, Ko Didi juga mencermati adanya faktor kepercayaan diri yang terlalu tinggi dari para pemain. Hal itu terjadi menjelang laga melawan Prancis di partai penentuan fase grup.

Sebelumnya, Indonesia sempat mengalahkan Thailand secara dramatis dengan skor 3-2. Sementara Thailand secara mengejutkan mampu menumbangkan Prancis 4-1.

“Faktor utamanya ini adalah pressure atlet-atlet yang karena keinginan menangnya mereka tinggi, mereka berpikir mereka bisa menang (lawan Prancis-red), di mana Thailand kalahkan Prancis. Bisa nih koh bisa nih,” tuturnya.

Optimisme tersebut, kata dia, justru berbalik menjadi bumerang ketika para pemain gagal mengontrol emosi saat berada di lapangan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 5 times, 1 visit(s) today