Memasuki Awal Perdagangan, Rupiah Ambruk Lagi ke Rp18.107/US$

Memasuki Awal Perdagangan, Rupiah Ambruk Lagi ke Rp18.107/US$

Iwan Medium.jpeg

Senin, 8 Juni 2026 – 10:21 WIB

Nilai tukar rupiah terus melemah pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026). (Ilustrasi: AI)

Nilai tukar rupiah terus melemah pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026). (Ilustrasi: AI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Memasuki awal pekan, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) semakin menyedihkan saja. Awal perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah tersungkur ke level Rp18.107/US$.

Melemah 71 poin atau 0,39 persen ketimbang penutupan Jumat (5/6) yang bertengger di Rp18.036/US$. Tak hanya mata uang Garuda yang ‘loyo’, namun diikuti mata uang Asia lainnya.

Misalnya peso Filipina melemah 0,32 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,93 persen, yen Jepang turun 0,03 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.

Sedangkan yuan China terangkat 0,07 persen, dolar Singapura naik 0,01 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,56 persen terhadap dolar AS.

Di kelompok negara maju, pergerakan mata uangnya bervariasi. Sebut saja, euro Eropa turun 0,01 persen, dolar Kanada melemah 0,08 persen, franc Swiss terdepresiasi 0,11 persen, dan poundsterling Inggris turun 0,05 persen. Sedangkan dolar Australia menguat 0,01 persen terhadap dolar AS.

Co-Founder FINE Institute, Kusfiardi menilai, pelemahan rupiah pertanda tingkat kepercayaan investor terhadap pemerintah, bermasalah. Apalagi yang terkoreksi bukan hanya rupiah namun juga pasar saham.

“Pasar sedang menilai ulang faktor risiko. Karena itu, gejolak yang terjadi pada saat ini, perlu dibaca lebih dalam daripada sekadar volatilitas pasar biasa,” ujar Kusfiardi. Senin (8/6/2026).

Menurutnya, terdapat sejumlah temuan penting yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan otoritas keuangan. Pertama, tekanan pasar tidak dapat dijelaskan hanya oleh faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, konflik geopolitik, atau tingginya suku bunga global.

“Faktor-faktor tersebut memang menjadi pemicu, namun kedalaman koreksi yang terjadi menunjukkan adanya persoalan domestik yang lebih mendasar, yaitu struktur pasar yang masih dangkal dan ketergantungan yang tinggi terhadap arus modal asing,” ungkapnya.

Dalam konteks ini, kata dia, FINE Institute menilai, berbagai proyeksi optimistis mengenai pelemahan rupiah, perlu dibaca secara hati-hati.

“Secara teoretis, rupiah dapat kembali menguat apabila terjadi pembalikan arus modal asing, peningkatan devisa ekspor, membaiknya sentimen global, serta pulihnya kepercayaan investor,” pungkasnya.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 3 times, 1 visit(s) today