Sejumlah barang bukti yang disita oleh Polda Metro Jaya terkait kasus dugaan penipuan oleh PT Hasanah Tamma Internasional atau Hananiya Group, Jakarta, Selasa (2/6/2026). (Foto: Antara/Ilham Kausar).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Praktik endorsement selebgram kembali menjadi sorotan publik setelah mencuatnya kasus gagal berangkat umrah yang melibatkan Hanania Travel. Kasus ini memunculkan pertanyaan serius terkait tingkat kepercayaan masyarakat terhadap promosi di media sosial, terutama yang dilakukan figur publik.
Pakar Komunikasi Digital, Firman Kurniawan, menilai fenomena ini terjadi karena selebgram telah memiliki basis kepercayaan yang terbentuk dari kedekatan mereka dengan pengikut di media sosial.
“Selebgram itu sudah banyak dilihat publik, sudah membentuk reputasi. Kalau mereka menipu atau memberikan informasi palsu, risikonya besar, bisa kehilangan pengikut,” kata Firman pada inilah.com, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, publik sering kali lebih mudah percaya pada figur yang familiar dibandingkan informasi resmi dari lembaga atau perusahaan. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan informasi resmi yang tidak selalu diperbarui atau sulit diakses.
“Kadang informasi resmi itu tidak sesuai harapan. Situs tertentu tidak diperbarui atau informasi yang dicari tidak ditemukan. Akhirnya orang lebih percaya pada konten yang lebih mudah diakses,” ujarnya.
Firman menyebut, penggunaan selebgram dalam promosi sebenarnya bukan fenomena baru, melainkan bagian dari strategi pemasaran yang memanfaatkan popularitas dan kedekatan emosional dengan audiens.
Namun, ia menekankan adanya tanggung jawab etis yang harus dipenuhi para influencer sebelum menerima endorsement, terutama untuk layanan yang sensitif seperti perjalanan umrah.
“Secara etika, selebgram wajib memeriksa dulu produk atau jasa yang dipromosikan. Idealnya mereka sudah pernah menggunakan atau memahami produknya, bukan sekadar mempromosikan,” tegasnya.
Ia menambahkan, dalam sejumlah kasus sebelumnya, influencer yang mempromosikan produk bermasalah bahkan turut dimintai keterangan oleh aparat penegak hukum, sehingga risiko tidak hanya bersifat reputasi.
Dalam kasus seperti Hanania Travel, Firman menilai risiko terbesar justru juga mengancam para endorser apabila produk yang dipromosikan terbukti bermasalah.
“Kalau produknya gagal atau bermasalah, yang terdampak bukan hanya perusahaan, tapi juga reputasi selebgram itu sendiri,” ujarnya.
Meski demikian, Firman memprediksi penggunaan selebgram sebagai alat promosi tidak akan berkurang. Justru ke depan, strategi ini akan semakin berkembang dengan pola baru, termasuk melibatkan pengguna yang benar-benar memiliki pengalaman langsung terhadap produk sebagai endorser.
Kasus Hanania Travel, kata Firman, menjadi pengingat bahwa di balik kuatnya pengaruh media sosial, terdapat tanggung jawab besar yang harus dipikul baik oleh pelaku usaha maupun para influencer.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














