Perlu Penyegaran, PKB Nilai Lima Tahun Terakhir NU Lebih Banyak Diwarnai Konflik Elite

Perlu Penyegaran, PKB Nilai Lima Tahun Terakhir NU Lebih Banyak Diwarnai Konflik Elite

Reyhaanah Medium.jpeg

Kamis, 16 Juli 2026 – 16:41 WIB

Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hasanuddin Wahid di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (1/10/2024). (Foto: Dok. Inilah.com/ Diana Rizky)

Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hasanuddin Wahid di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (1/10/2024). (Foto: Dok. Inilah.com/ Diana Rizky)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hasanuddin Wahid menilai Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan penyegaran kepemimpinan menjelang Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, organisasi tersebut memerlukan sosok baru yang mampu mempersatukan warga Nahdliyin dan mengembalikan peran NU di tengah masyarakat.

Hal itu ia sampaikan menanggapi menghangatnya bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), termasuk keputusan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya untuk kembali mencalonkan diri.

“Kalau saya sih menganggap bahwa NU perlu di-refreshing. Jadi, di-refresh-lah,” kata Hasanuddin kepada wartawan di Jakarta, dikutip Kamis (16/7/2026).

Ia berpendapat, tanpa adanya penyegaran kepemimpinan, peran dan marwah NU dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, maupun kebangsaan akan semakin menurun.

“Karena tanpa ada refreshing ini akan menjadikan peran, fungsi, marwah, martabat NU ke depan dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan akan semakin terpuruk,” ujarnya.

Konflik Elite NU

Hasanuddin menilai, selama lima tahun terakhir perhatian publik lebih banyak tertuju pada konflik di kalangan elite NU dibandingkan kiprah organisasi dalam membina dan memberdayakan masyarakat.

“Jadi, lebih banyak cerita konflik, cerita berantem daripada cerita keberhasilan mengayomi masyarakat, memberdayakan masyarakat, dan sebagainya,” ucap dia.

Karena itu, Hasanuddin mengaku sependapat dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang sebelumnya menyatakan NU membutuhkan pemimpin baru.

Hasanuddin berharap pemimpin baru nantinya mampu meredam konflik dan menjadi figur yang mengayomi warga Nahdliyin.

“Siapakah itu? Ya, yang bukan yang sekarang. Silakan dipilih mau siapapun, yang penting yang bukan sekarang. Cari yang kemudian lebih meneduhkan, cari yang kemudian bisa ngayomi, cari yang enggak suka ngumbar konflik, cari yang bisa ngayomi rakyat dan Nahdliyin,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 1 visit(s) today