Pekerja kebersihan menyapu lantai sekolah pascaledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, Selasa (14/7/2026). Kepolisian mengamankan dan melakukan pemeriksaan awal terhadap siswa yang diduga melakukan perakitan bom yang meledak di depan kelas di MAN 3 Padang. (Foto: Antara Foto/Fitra Yogi/agr).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat mengungkap dugaan motif di balik aksi seorang pelajar berinisial R (17) yang meledakkan bom rakitan di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Selasa (14/7/2026).
Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol. Susmelawati Rosya, mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, pelaku diduga mengalami tekanan psikologis akibat menjadi korban perundungan (bullying) sejak duduk di kelas II.
“Karena si anak dari duduk kelas 2 dia sudah di bully. Sekarang dia sudah kelas 3. Sejak pertama duduk di kelas 2, dia sudah di bully sama teman-teman kelasnya,” ucap Susmelawati saat dikonfirmasi, Kamis (16/7/2026).
Menurut Susmelawati, aksi tersebut diduga merupakan akumulasi tekanan psikologis yang dialami pelaku selama bertahun-tahun.
“Jadi, tindakan ini kemungkinan merupakan akumulasi dari beban tekanan psikologis yang mendalam,” ujar Susmelawati.
Dari pengakuan awal, polisi menduga terdapat satu orang yang melakukan perundungan terhadap pelaku di lingkungan sekolah. Namun, penyidik masih mendalami keterangan tersebut.
“Kalau kemaren pengakuan awal ya ada beberapa ya kalau ga salah, satu orang ya yang melakukan, membully dia itu nanti ibu dalami lagi ini. Pengakuan di lapangan ada 1 orang yang membully,” kata dia.
Selain itu, polisi juga memperoleh informasi bahwa pelaku diduga telah mengalami perundungan sejak masih kecil, meski diduga dilakukan oleh orang yang berbeda.
“Tapi pernah juga kemaren itu di tanya di lapangan, dulu waktu kecil mengalami itu, mengalami di bully, tapi tidak dengan anak yang sama ya,” ungkap dia.
Di sisi lain, penyelidikan mengenai dugaan perundungan berjalan bersamaan dengan penyidikan kasus peledakan bom rakitan tersebut.
Hingga kini, penyidik telah memeriksa belasan saksi untuk mengungkap rangkaian peristiwa secara utuh.
“Disampaikan polresta bahwa sampai saat ini hari pertama pemeriksaan berjalan sudah 7 orang lebih fokus kepada guru-guru, kepada satpam yang ada di lokasi, yang ikut waktu kejadian,” katanya.
“Kemudian kepada si pelaku sendiri gitu, kemudian ada beberapa yang dipanggil, treus hari ini sudah menjadi 12 orang gitu kan,” sambungnya.
Selain mengusut dugaan tindak pidana, kepolisian juga memprioritaskan pemulihan kondisi psikologis pelaku yang masih berstatus anak.
“Seperti apa detailnya itu masih batas-batas itu aja dulu, yang paling terpenting itu masalah rehabilitasi pelaku, itu yang hasil koordinasi ibu,” ujarnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











