GoTo capai laba sebelum pajak yang disesuaikan (Adjusted Pre-Tax Profit) pertama di kuartal III-2025 sebesar Rp62 Miliar dan menaikkan panduan EBITDA setahun penuh. (Foto: Dok. GoTo)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp607,48 miliar pada semester I 2026. Kinerja tersebut menjadi pembalikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu ketika perusahaan masih mencatatkan rugi bersih Rp580,01 miliar.
Perbaikan kinerja keuangan itu ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bersih yang mencapai Rp10,99 triliun, meningkat 28,45 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan semester I 2025 sebesar Rp8,55 triliun.
Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, mengatakan perusahaan juga mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, seiring peningkatan profitabilitas operasional.
“Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya,” ujar Hans, Kamis (30/7).
Bisnis Pengiriman Jadi Penyumbang Terbesar
Pendapatan GoTo masih didominasi oleh bisnis jasa pengiriman yang menyumbang Rp3,2 triliun, tumbuh 16,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, pendapatan dari imbalan jasa mencapai Rp3,15 triliun, disusul pendapatan imbalan jasa e-commerce sebesar Rp550,72 miliar dan pendapatan iklan senilai Rp254,45 miliar.
Perusahaan juga membukukan pendapatan lain-lain sebesar Rp1,12 triliun, sementara dana yang diperoleh dari pinjaman meningkat menjadi Rp2,7 triliun atau tumbuh 64,67 persen secara tahunan.
Di sisi lain, seiring meningkatnya aktivitas bisnis, biaya dan beban perusahaan juga naik 16,87 persen menjadi Rp10,21 triliun dari sebelumnya Rp8,73 triliun.
Hingga 30 Juni 2026, GoTo mencatat total aset sebesar Rp47,47 triliun, dengan total liabilitas dan ekuitas berada pada level yang sama.
Dampak Aturan Komisi Baru Mulai Kuartal III
Hans mengatakan mulai 1 Juli 2026, GoTo telah menerapkan struktur komisi baru sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026.
Kebijakan tersebut berlaku untuk layanan transportasi roda dua Gojek yang berkontribusi sekitar 7 persen terhadap pendapatan bersih grup.
“Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil,” kata Hans.
Meski demikian, GoTo tetap mempertahankan proyeksi EBITDA Grup yang disesuaikan sepanjang 2026 di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Perseroan memperkirakan kontribusi bisnis on-demand services akan menurun akibat penyesuaian komisi aplikasi, sementara lini bisnis fintech diproyeksikan menjadi pendorong utama pertumbuhan laba.
Target Fintech Naik, On-Demand Diturunkan
Seiring kinerja yang terus membaik, GoTo menaikkan target EBITDA bisnis fintech menjadi Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp1,4 triliun-Rp1,5 triliun.
Sebaliknya, target EBITDA bisnis on-demand services diturunkan menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,7 triliun-Rp1,8 triliun sebagai dampak penerapan komisi aplikasi sebesar 8 persen.
Hans menegaskan GoTo akan terus berinvestasi dalam pengembangan ekosistem, termasuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi melalui berbagai program seperti BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga program umrah gratis.
“Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,” ujarnya.
Meski optimistis terhadap prospek bisnis, Hans mengingatkan bahwa proyeksi kinerja perusahaan tetap bergantung pada berbagai faktor eksternal seperti persaingan industri, inflasi biaya, serta kondisi ekonomi makro.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














