Haluan politik luar negeri Kolombia mendadak berputar arah 180 derajat. Usai era kepemimpinan Presiden Gustavo Petro yang dikenal sangat vokal membela Palestina, pemerintahan baru di bawah Presiden terpilih Abelardo de la Espriella bersiap membalikkan arah diplomasi secara radikal: memulihkan hubungan penuh dengan Israel sekaligus membatalkan rencana pembukaan kedutaan besar di Palestina.
Tak berhenti di situ, Bogota bahkan berencana memindahkan kantor kedutaan besarnya langsung ke Yerusalem. Langkah ini menorehkan salah satu pergeseran peta geopolitik paling tajam di kawasan Amerika Latin dalam beberapa dekade terakhir.
Kunci Ulang Hubungan Mesra dengan Tel Aviv dan Washington
Rangkaian keputusan drastis tersebut diumumkan langsung oleh De la Espriella. Ia menegaskan bahwa pembukaan kedutaan besar Kolombia di Palestina resmi dibekukan. Alasannya terbilang tajam: misi diplomatik tersebut dinilai tidak pernah benar-benar beroperasi secara riil di lapangan.
“Misi diplomatik di Palestina tidak pernah benar-benar beroperasi secara aktual. Penangguhan ini menjadi bagian dari restrukturisasi luar negeri Kolombia,” tegas De la Espriella saat mengumumkan penataan ulang misi diplomatik negaranya.
Di balik layar, mesin diplomasi pemerintahan baru ini sebenarnya sudah bergerak cepat. Calon Menteri Luar Negeri Kolombia, Omar Bola Escobar, sudah menggelar pertemuan khusus dengan Menlu Israel Gideon Sa’ar di Washington. Kedua pihak sepakat memulihkan hubungan diplomatik secara penuh begitu De la Espriella resmi dilantik pada 7 Agustus mendatang.
Lewat kesepakatan anyar ini, Bogota dan Tel Aviv bakal kembali menukar duta besar, memperluas kerja sama perdagangan dan keamanan, hingga membebaskan persyaratan visa. Keputusan ini otomatis menyapu bersih kebijakan tegas Gustavo Petro pada Mei 2024 lalu, saat ia nekat memutus hubungan diplomatik dengan Israel sebagai bentuk protes keras atas agresi militer di Jalur Gaza.
Deklarasi Politik dan Bayang-Bayang Resolusi PBB
Rencana membawa kedutaan besar Kolombia ke Yerusalem jelas menjadi poin paling panas dan memicu sorotan dunia. Langkah ini dianggap menyalahi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 478, yang secara tegas meminta seluruh negara anggota untuk tidak mengakui status Yerusalem serta mendesak penarikan misi diplomatik dari kota tersebut.
Pakar urusan Amerika Latin, Victorious Bayan Shams, menilai keputusan pemindahan kedubes ini bukan sekadar urusan administrasi atau kepindahan alamat kantor belaka, melainkan sebuah pernyataan sikap yang amat tegas.
“Pemindahan kedutaan ke Yerusalem adalah sebuah deklarasi politik. Langkah ini memberikan sinyal penyelarasan politik penuh dengan Israel sekaligus menegaskan niat Kolombia memperkuat hubungan strategis dengan Amerika Serikat,” ujar Shams.
Menurut Shams, kepemimpinan Gustavo Petro sebelumnya memang sebuah fenomena langka dalam sejarah politik Kolombia. Kini, di bawah De la Espriella, negara Amerika Selatan itu pada dasarnya hanya sedang ‘pulang’ ke poros tradisionalnya yang sangat dekat dengan Tel Aviv dan Washington –sejak hubungan diplomatik kedua negara pertama kali dibuka pada 1957 silam.
Api Solidaritas Rakyat Kolombia tak Mudah Padam
Di atas kertas, kepergian Gustavo Petro jelas menjadi pukulan telak bagi perjuangan diplomasi rakyat Palestina di panggung internasional. Israel menangguk kemenangan diplomatik yang cukup besar dengan mengamankan kembali mitra strategisnya di kawasan Amerika Latin.
Namun, Shams mengingatkan bahwa rezim baru di Bogota mungkin bisa dengan mudah mengubah dokumen kebijakan resmi negara, tetapi tidak akan gampang menghapus jejak simpati publik yang sudah terpatri di akar rumput.
Sejak gejolak perang di Gaza pecah, berbagai gelombang aksi demonstrasi besar terus mewarnai jalanan di depan bekas Kedubes Israel di Bogota. Transformasi kesadaran masyarakat Kolombia terhadap penderitaan warga Palestina sudah terlanjur masuk ke dalam perdebatan publik arus utama.
Perjuangan membela Palestina di Kolombia kini tak lagi bergantung pada political will seorang presiden, melainkan berada di tangan gerakan masyarakat sipil dan aktivisme akar rumput yang sudah terlanjur menyala.














