Ekspansi Tambak Gerus Mangrove Kaltim, Kerusakan Capai 102 Ribu Hektare

Ekspansi Tambak Gerus Mangrove Kaltim, Kerusakan Capai 102 Ribu Hektare

artwork-didit.png

Jumat, 31 Juli 2026 – 02:35 WIB

Plt. Kepala BPDAS Mahakam Berau, Indi Hendraswari, memberikan pemaparan dalam Dialog Media bertajuk

Plt. Kepala BPDAS Mahakam Berau, Indi Hendraswari, memberikan pemaparan dalam Dialog Media bertajuk “Potret & Transformasi Mangrove Kalimantan Timur” di Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (30/7/2026). (Foto: Inilah.com/Didit).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ekspansi tambak menjadi faktor dominan di balik kerusakan ekosistem mangrove di Kalimantan Timur. Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, luas mangrove yang hilang tercatat mencapai sekitar 102 ribu hektare.

Plt. Kepala BPDAS Mahakam Berau, Indi Hendraswari, mengungkapkan bahwa konversi lahan menjadi tambak menyumbang porsi terbesar dalam deforestasi mangrove di wilayah tersebut.

“Sebesar 51 persen kerusakan berasal dari tambak aktif, dan 40 persen dari tambak yang terbengkalai. Jika digabung, kontribusinya mencapai 91 persen,” kata Indi dalam Dialog Media “Potret & Transformasi Mangrove Kalimantan Timur Bersama Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR)” di Samarinda, Kamis (30/7/2026).

Ia menjelaskan, sejak 1994 hingga 2024, Kalimantan Timur telah kehilangan 36,6 persen tutupan mangrove. Saat ini, hanya sekitar 63,4 persen yang masih tersisa dari total luasan awal.

Selain tambak, faktor lain seperti alih fungsi menjadi kebun sawit, abrasi, dan sedimentasi turut berkontribusi terhadap kerusakan, meski angkanya relatif kecil.

Indi menyoroti kondisi tambak terbengkalai yang banyak ditemukan di lapangan. Lahan yang ditinggalkan itu berubah menjadi semak mangrove, namun tidak berfungsi optimal sebagai ekosistem.

“Ini menunjukkan persoalan bukan hanya alih fungsi, tetapi juga lemahnya pengelolaan. Banyak tambak tidak produktif lalu ditinggalkan begitu saja,” ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa upaya rehabilitasi mangrove masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari pemilihan bibit yang tidak sesuai hingga pendekatan proyek yang tidak berkelanjutan.

Di sisi lain, tekanan terhadap mangrove masih terus terjadi karena sebagian masyarakat pesisir memandang kawasan tersebut sebagai lahan potensial untuk tambak.

Padahal, mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, mulai dari menahan abrasi, menyimpan karbon, hingga mendukung mata pencaharian masyarakat.

“Kalau tata kelola tidak diperbaiki, rehabilitasi saja tidak cukup. Kerusakan akan terus berulang,” tegas Indi.

Saat ini, luas ekosistem mangrove di Kalimantan Timur mencapai sekitar 240 ribu hektare. Dari jumlah tersebut, lebih dari 111 ribu hektare di antaranya memiliki potensi untuk direhabilitasi.

Namun demikian, tanpa pengendalian ekspansi tambak dan perbaikan tata kelola, upaya pemulihan dinilai akan sulit mengejar laju kerusakan yang terus terjadi.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 2 visit(s) today