Terkait neraca perdagangan pada Juli 2025 yang akan diumumkan BPS (Badan Pusat Statistik) pada Senin (1/9/2025), pemerintah optimistis bakal meraup surplus.
Meski begitu, angka surplusnya diprediksikan turun ketimbang bulan sebelumnya. Kalau itu benar, menjadi surplus ke-63 bulan secara berturut-turut.
Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan, meski tarif resiprokal 19 persen ditetapkan pemerintah AS, belum resmi diterapkan pada Juli 2025, pemerintah mencermati adanya penundaan pembayaran dari importir di luar negeri kepada eksportir Indonesia.
“Ini sekedar cerita saja. Urusan DHE (Devisa Hasil Ekspor) misalkan, ternyata pembayaran pihak pembeli di luar negeri kepada eksportir kita mengalami penundaan,” kata Susiwijono, Jakarta, dikutip Sabtu (31/8/2025).
Perubahan pelaku usaha ini, kata Susiwidjono, menunjukkan efek kebijakan global juga dapat mempengaruhi sentimen dan ekspektasi pasar. “Faktanya kita sudah berdebat menghitung dampak ini, semuanya ke ekonomi. Sebelum realisasi, perilaku bisnis berubah,” ucapnya.
Konsensus Bloomberg pada Jumat (29/8/2025), menghasilkan median proyeksi pertumbuhan ekspor Juli di 6,1 persen secara tahunan (year on year/yoy). Jika terwujud, berarti melambat ketimbang Juni sebesar 11,29 persen (yoy).
Perkembangan harga sejumlah komoditas mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Batu bara, misalnya. Harga batu bara internasional ICE Newcastle turun nyaris 5 persen sepanjang Agustus 2025.
Masih menurut konsensus Bloomberg, menghasilkan median proyeksi pertumbuhan impor pada Juli 2025, sebesar minus 5 persen (yoy). Jika terwujud, maka akan menjadi kontraksi pertama dalam 6 bulan.
Impor Indonesia didominasi kebutuhan industri dalam negeri, berupa bahan baku/penolong dan barang modal untuk keperluan produksi domestik. Ironisnya, industri manufaktur Tanah Air sedang lesu.
Menurut S&P Global, aktivitas manufaktur Indonesia yang diukur dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) berada di 49,2 untuk periode Juli 2025.
PMI di bawah 50 menunjukkan aktivitas yang kontraksi, bukan ekspansi. Aktivitas manufaktur Indonesia sudah berada di zona kontraksi selama 4 bulan berturut-turut.
Data Juli 2025 mengindikasikan kembali negatifnya situasi manufaktur Indonesia. Penurunan produksi dan pemesanan baru terus terjadi pada awal kuartal III-2025, meski melandai dibandingkan Juni 2025.














