Agar Indonesia Segera Naik Kelas, Perry: ISEI Sejalan dengan Begawan Ekonomi Prof Soemitro

Agar Indonesia Segera Naik Kelas, Perry: ISEI Sejalan dengan Begawan Ekonomi Prof Soemitro

Iwan Medium.jpeg

Sabtu, 20 September 2025 – 23:36 WIB

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) sekaligus Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Rakyat Merdeka).

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) sekaligus Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Rakyat Merdeka).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Tak mudah memang jika Indonesia ingin naik kelas menjadi negara yang berpenghasilan tinggi. Minimal, angka pertumbuhan ekonominya bisa 6 persen, syukur-syukur bisa 7 persen.

Hal itu menjadi salah satu rekomendasi dari Sidang Pleno ISEI XXIV & Seminar Nasional 2025 yang digelar di Manado, Sulawesi Utara (Sulut), pada 18-19 September 2025.  “Untuk mencapai angka tersebut, ISEI menilai perlu perubahan struktural berbasis peningkatan produktivitas,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), Perry Warjiyo di Jakarta, dikutip Sabtu (20/9/2025).

Kata Perry, Sidang Pleno ISEI XXIV itu, menghasilkan rumusan lima pilar utama sebagai arah program kerja ISEI pada 2024-2027. Kelima pilar itu, meliputi, stabilisasi ekonomi dan keuangan, hilirisasi dan industrialisasi, ketahanan pangan, transformasi digital, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). “Langkah-langkah ini merupakan respons konkret terhadap lanskap ekonomi global yang semakin kompleks,” ungkap Perry yang juga Gubernur Bank Indonesia (BI) itu.

Hal itu, kata dia, menjadi upaya ISEI untuk lebih mensinergikan implementasi strategi pembangunan nasional dalam kerangka Program Asta Cita yang diusung pemerintah.

“Kontribusi pemikiran ISEI kepada pemerintah dan masyarakat diwujudkan dalam dokumen Kajian Kebijakan Publik (KKP) volume 6.0, yang mengupas pentingnya transformasi ekonomi untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif, merata, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Perry.

Dia menambahkan, pemikiran ISEI sejalan dengan gagasan Begawan Ekonomi Indonesia, Prof Soemitro Djojohadikoesoemo yang meyakini bahwa kemandirian dan nasionalisme ekonomi sangat penting. “Tujuan akhir pembangunan adalah kesejahteraan rakyat, bukan sekadar pertumbuhan angka-angka makroekonomi,” ungkapnya.

Menurutnya, menegaskan perlunya kolaborasi antara akademisi, pelaku bisnis, dan pemerintah (ABG) untuk mewujudkan ekonomi yang tangguh, mandiri, dan sejahtera.

Dalam kajiannya, ISEI menyoroti perlunya mencapai pertumbuhan 6 hingga 7 persen per tahun, hingga 2045, jika Indonesia untuk naik status menjadi negara berpendapatan tinggi. “Hal ini hanya dapat dicapai melalui perubahan struktural berbasis peningkatan produktivitas,” kata Perry.

Perry pun menekankan pentingnya strategi hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat struktur ekonomi. Namun, hilirisasi harus diarahkan agar lebih inklusif, terutama di sektor mineral dan pertanian, melalui model hilirisasi pangan end-to-end.

Di sisi lain, ia menilai ekonomi dan keuangan digital dipandang sebagai sumber pertumbuhan baru. Digitalisasi berpotensi menjadi mesin utama pertumbuhan berkelanjutan karena mampu memperluas inklusivitas, meningkatkan efisiensi, dan mendorong produktivitas, yang krusial untuk menghindari middle income trap.

Selain itu, pembiayaan memegang peran penting, baik melalui perluasan peran lembaga pembiayaan di sektor perumahan, maupun pendekatan adaptif dan terdiversifikasi untuk UMKM.

“Sementara itu, sektor perumahan diposisikan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan permintaan domestik,” pungkasnya.

Topik
Komentar

Visited 2 times, 1 visit(s) today