Delegasi Iran menunda pembicaraan dengan AS di Islamabad akibat agresi Israel di Lebanon. (Ilustrasi: Anadolu Agency)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Rencana dialog diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, kini berada di ujung tanduk. Teheran dilaporkan berulang kali menunda pengiriman delegasinya menyusul gelombang serangan udara Israel yang masih menyasar wilayah Lebanon.
Mengutip laporan penyiar Press TV pada Jumat (10/4/2026), sumber internal menyebutkan bahwa aksi militer Israel menjadi ganjalan utama. Iran memperingatkan bahwa setiap eskalasi baru di Lebanon utamanya di Beirut, dapat merusak peta jalan perundingan yang tengah disusun.
Padahal, di saat yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa delegasi Washington telah meluncur menuju lokasi perundingan. Vance menegaskan, timnya membawa “pedoman yang cukup jelas” langsung dari Presiden Donald Trump untuk mengakhiri ketegangan kedua negara. Namun, hingga berita ini diturunkan, kehadiran delegasi Iran di Islamabad masih nihil.
Klaim Gencatan Senjata yang Rapuh
Sebelumnya, pada Selasa (7/4/2026) malam, Presiden Donald Trump sempat menebar optimisme. Ia mengklaim telah menyepakati gencatan senjata bilateral selama dua minggu dengan Iran. Dalam kesepakatan tersebut, Teheran disebut setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas internasional.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pun awalnya merespons positif dengan menjadwalkan pembicaraan pada hari Jumat. Namun, situasi di lapangan berkata lain.
Pada Rabu (8/4/2026), pesawat tempur dan artileri Israel justru menghantam lebih dari belasan permukiman di Lebanon selatan, termasuk kota pelabuhan strategis, Tirus. Iran menilai serangan ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap semangat kesepakatan yang baru saja dirintis.
Saling Sandera Kepentingan
Ketegangan semakin meruncing karena adanya perbedaan persepsi antara Gedung Putih dan Teheran. Trump berdalih bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak masuk dalam poin kesepakatan dengan Iran, mengingat adanya faktor Hizbullah.
Sebaliknya, Teheran melihat Israel sebagai perpanjangan tangan kepentingan AS. Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa keberlanjutan negosiasi sangat bergantung pada komitmen nyata di lapangan.
”Pelaksanaan negosiasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran bergantung pada kepatuhan terhadap kewajiban gencatan senjata di semua pihak,” bunyi pernyataan resmi Kemlu Iran.
Kini, bola panas berada di tangan Washington. Jika serangan Israel ke Lebanon tidak diredam, besar kemungkinan meja perundingan di Islamabad akan kosong, dan gencatan senjata dua minggu yang dijanjikan Trump hanya akan menjadi catatan di atas kertas.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










