Presiden Como 1907, Mirwan Suwarso, mengungkapkan bahwa dirinya memang sempat menghubungi Inter Milan untuk membuat kesepakatan tidak saling bersaing dalam perebutan bek Chelsea, **Trevoh Chalobah>.
Pernyataan tersebut disampaikan Suwarso dalam podcast Business of Sport, sekaligus mengonfirmasi laporan media Italia yang sebelumnya menyebut Como dan Inter memilih menghindari perang penawaran demi mencegah harga Chalobah semakin melambung.
Saat itu, Chelsea disebut mematok harga sekitar 35 juta euro atau sekitar Rp665 miliar (kurs Rp19.000 per euro) untuk bek asal Inggris tersebut.
Hubungi Presiden Inter Secara Langsung
Suwarso mengaku memilih berbicara langsung dengan petinggi Inter daripada terlibat perang harga yang justru merugikan kedua klub.
“Ketika media memberitakan kami bersaing dengan klub Italia lain untuk mendapatkan pemain Inggris, saya berpikir, mengapa tidak langsung menelepon presiden klub tersebut?” kata Suwarso.
Ia kemudian menawarkan solusi sederhana.
“Saya mengatakan, kalau kalian benar-benar menginginkan pemain itu, silakan lanjutkan transfernya, kami akan mundur. Sebagai gantinya, jika transfer itu selesai, berikan salah satu pemain kalian kepada kami,” ujarnya.
Menurut Suwarso, respons yang diterimanya sangat positif.
“Dia mengucapkan terima kasih karena saya menghubunginya. Setelah itu kami juga saling berbagi daftar target transfer masing-masing,” lanjutnya.
Filosofi Baru di Bursa Transfer
Suwarso menilai hubungan antarklub tidak selalu harus diwarnai persaingan.
Baginya, komunikasi terbuka justru menciptakan keuntungan bersama.
“Ini hubungan yang saling menguntungkan. Kami terbuka dengan klub lain dan percaya pendekatan seperti ini membantu semua pihak berkembang,” katanya.
Ia bahkan mengungkapkan akan bertemu dengan presiden klub Serie A lain untuk membahas kemungkinan kerja sama di luar lapangan, termasuk pengembangan bisnis produk fesyen dan merchandise.
Como Ingin Mandiri Secara Finansial
Dalam kesempatan yang sama, Suwarso juga menjelaskan perkembangan finansial Como sejak diakuisisi investor asal Indonesia.
Ia mengungkapkan Como dibeli dengan nilai sekitar 850 ribu euro ditambah 150 ribu euro utang. Setelah itu, pemilik klub menginvestasikan dana besar untuk membangun fasilitas, termasuk pusat latihan yang sebelumnya belum dimiliki klub.
Menurut Suwarso, Como kini berada di jalur yang tepat menuju kemandirian finansial.
“Kami memang mengeluarkan investasi yang cukup besar, tetapi kami yakin mulai musim depan klub sudah bisa mencapai titik impas dan tidak lagi membutuhkan suntikan dana dari pemilik,” ujarnya.
Ia juga mengaku telah berdiskusi dengan UEFA mengenai aturan Financial Fair Play (FFP), mengingat pertumbuhan Como dinilai berbeda dibandingkan klub-klub mapan di Eropa.
“Kami ingin menjadi anggota yang baik dalam ekosistem sepak bola. Jika memang harus dikenai sanksi sesuai aturan, kami akan menerimanya. Kami tidak meminta perlakuan khusus,” tutup Suwarso.













